Peringati Hari Hepatitis Sedunia, Kenali Penularan dan Risikonya

Siska Permata Sari ยท Selasa, 28 Juli 2020 - 14:21 WIB
Peringati Hari Hepatitis Sedunia, Kenali Penularan dan Risikonya

Biasakan kontrol kesehatan agar selalu sehat. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Hari ini, dunia tengah memperingati Hari Hepatitis Sedunia yang selalu jatuh pada 28 Juli setiap tahunnya. Peringatan tersebut mengingatkan lagi tentang kesadaran terhadap penyakit menular, yaitu hepatitis B dan C.

Hepatitis adalah peradangan hati yang bisa berkembang menjadi fibrosis, sirosis atau kanker hati. Hepatitis disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi virus, zat beracun, misalnya alkohol, obat-obatan tertentu, serta penyakit autoimun.

Penyebab paling umum hepatitis adalah disebabkan oleh virus hepatitis B dan C. Pada 28 Juli ini dipilih sebagai hari hepatitis sedunia karena tanggal tersebut merupakan hari lahir dari penemu virus hepatitis B, Baruch Samuel Bloomberg.

Walaupun ada hepatitis A, B, C, D dan E, namun yang menjadi fokus utama adalah hepatitis B dan C yang dapat menyebabkan jaringan parut hati lanjut atau sirosis hingga komplikasi lainnya, termasuk kanker hati atau gagal hati.

Untuk penyakit hepatitis B, prevalensi globalnya adalah dua miliar orang telah terinfeksi dan 240 juta berisiko mempunyai potensi mengalami komplikasi kronis seperti sirosis dan kanker hati. Selain komplikasi kronis, hepatitis B juga menyebabkan 500.000 hingga 700.000 kematian per tahun.

“Di Indonesia, 18 juta penduduk terinfeksi hepatitis B, dengan 50 persennya berisiko menjadi kronis dan 900.000 lainnya menjadi sirosis dan kanker hati,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes RI, dr Wiendra Waworuntu, MKes, dalam Webinar Hari Hepatitis Sedunia 2020, Selasa (28/7/2020).

Kemudian, kasus hepatitis C di Indonesia cenderung lebih sedikit dibandingkan hepatitis B, yakni di bawah 1,5 persen berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013. “Anti HCV positif menunjukkan 1,01 persen di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, prevalensi global untuk hepatitis C, ada 115 juta orang terinfeksi pada 2016 dan kasus tertinggi ada di kawasan Asia Pasifik dan Afrika.

“Penularan hepatitis B, C dan D, itu bisa terjadi melalui ibu ke anak, aktivitas seksual tidak aman, melakukan tindik atau tato, penggunaan alat pribadi bergantian, hingga penggunaan jarum suntik tidak steril,” ucap dr Wiendra.

Lebih lanjut, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Irsan Hasan, SpPD-KGEH, menerangkan, hepatitis B dan C menular melalui darah dan cairan tubuh. Kedua jenis hepatitis ini juga menyebabkan infeksi kronik. “Yang paling sering adalah penularan vertikal dari ibu (menularkan) ke bayi, dan jika bayi kena itu 98 persen bisa menjadi kronik,” ucapnya.

“Sebagian besar pengidap tidak sadar. Padahal, satu dari empat orang akan meninggal dunia karena kanker atau gagal hati. Oleh karena itu, ini disebut sebagai penyakit silent killer,” kata dr Irsan.

Editor : Tuty Ocktaviany