Produk Tembakau Alternatif Berpotensi Kurangi Angka Perokok, Ini Penjelasannya

Vien Dimyati ยท Jumat, 26 Juni 2020 - 11:39 WIB
Produk Tembakau Alternatif Berpotensi Kurangi Angka Perokok, Ini Penjelasannya

Tembakau alternatif kurangi angka perokok (Foto : Letaba Herald)

JAKARTA, iNews.id - Sudah menjadi hal umum jika rokok memiliki efek paling berbahaya, yaitu kanker paru. Dibutuhkan inovasi baru untuk mengurangi ketergantungan rokok.

Penggunaan produk tembakau alternatif masih menjadi perdebatan oleh berbagai pihak. Padahal, produk inovasi ini bertujuan untuk mengurangi berbagai masalah yang diakibatkan oleh rokok di seluruh dunia.

Dalam acara Global Forum on Nicotine (GFN) ke-7 yang diselenggarakan secara daring pada 11-12 Juni 2020 lalu. Forum tersebut membahas mengenai pengurangan risiko dari rokok dan potensi manfaat produk tembakau alternatif yang sangat besar bagi kesehatan publik.

Para pembicara yang diundang berasal dari ragam disiplin, termasuk peneliti dan praktisi kesehatan dari berbagai negara.

Mantan Direktur Action on Smoking and Health (ASH) Inggris, Clive Bates, yang menjadi salah satu pembicara di GFN mengatakan dengan adanya dukungan dari pemerintah dan semua pemangku kepentingan terkait pembentukan regulasi dan akses informasi mengenai produk tembakau alternatif, dia optimis angka perokok dan penyakit yang berkaitan dengan rokok akan berkurang.

“Jika semua mendukung produk tembakau alternatif, lama kelamaan, jumlah perokok pada generasi sekarang ini akan berkurang. Harusnya berita baik ini dilihat sebagai suatu terobosan besar," ujar Clive Bates.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Aryo Andrianto mengatakan, perdebatan terjadi karena minimnya informasi yang akurat mengenai produk tembakau alternatif.

Menurut dia, produk ini merupakan terobosan inovasi yang perlu diketahui oleh perokok dewasa sehingga mereka memiliki pilihan untuk beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risiko daripada rokok.

“Pemerintah, pakar kesehatan, dan media massa di Indonesia seharusnya bekerja sama untuk terus memberikan informasi yang akurat mengenai produk tembakau alternatif yang didasari oleh hasil penelitian bukan asumsi, seperti yang dilakukan oleh negara beberapa maju, seperti di Inggris,” kata Aryo melalui keterangannya, Jumat (26/6/2020).

Aryo menjelaskan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan, memiliki risiko jauh lebih rendah daripada rokok karena tidak melalui proses pembakaran sehingga yang dihasilkan adalah uap, bukan asap.

"Selain lebih rendah risiko, produk ini juga tidak menganggu bagi orang-orang yang ada di sekitar pengguna. Tidak ada lagi asap, produk ini hanya menghasilkan uap yang cepat menyatu dengan udara sekitar,” katanya.

Untuk memaksimalkan penggunaan produk tembakau alternatif, Aryo menyarankan pemerintah, akademisi, dan pakar kesehatan untuk menggandeng pelaku usaha dan asosiasi guna melakukan kajian ilmiah secara komprehensif.

Lalu, hasil kajian ilmiah tersebut diharapkan dapat menjadi landasan untuk pembuatan regulasi dan kebijakan cukai yang bersifat proporsional dengan mempertimbangkan profil risiko dari produk tembakau alternatif.

“Sebagai pelaku usaha, kami sangat membutuhkan regulasi dan pengaturan standar produk sehingga memiliki kepastian dan rasa aman ketika melakukan transaksi dengan konsumen. Jadi, apa yang kami lakukan ini ada standarnya," kata Aryo.

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR sekaligus Pengamat Hukum, Ariyo Bimmo menambahkan, regulasi khusus bagi produk tembakau alternatif harus segera dirumuskan di Indonesia.

Dengan adanya regulasi, potensi yang dimiliki oleh produk tembakau alternatif dapat dimaksimalkan, sekaligus menutup celah produk ini digunakan anak di bawah umur 18 tahun dan non-perokok.

“Regulasi khusus yang berbeda dari rokok tersebut akan membuat penggunaan produk tembakau alternatif menjadi lebih tepat sasaran. Regulasi tersebut diharapkan dapat meliputi akses informasi yang akurat bagi konsumen, peringatan kesehatan yang dibedakan dari rokok, tata cara pemasaran, dan pengawasan," kata Bimmo.

Editor : Vien Dimyati