Sering Berpikir Negatif! Ini Dampaknya bagi Fungsi Otak
JAKARTA, iNews.id - Jangan sering berpikir negatif karena kebiasaan tersebut ternyata tidak hanya memengaruhi suasana hati. Pola pikir negatif yang terjadi berulang kali atau repetitive negative thinking (RNT) juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan memori.
Hal ini diungkap dokter Adam Prabata melalui akun X @AdamPrabata. Dia membagikan hasil penelitian yang melihat hubungan antara RNT dengan penurunan fungsi kognitif serta sejumlah penanda biologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
“Sering berpikir negatif bisa berujung pada penurunan kemampuan otak,” tulis Adam dalam unggahannya.
Adam menjelaskan, penelitian tersebut menunjukkan orang yang cenderung memiliki pola pikir negatif berulang dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan otak. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan risiko depresi dan kecemasan.
Kemampuan otak yang dapat mengalami penurunan mencakup memori serta kemampuan kognitif secara keseluruhan.
“Jadi ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang cenderung memiliki pola pikir negatif itu bisa meningkatkan risiko terjadinya penurunan kemampuan otak dalam bentuk Alzheimer. Selain itu ada peningkatan risiko depresi dan kecemasan,” katanya.
Adam mengutip studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020. Penelitian tersebut meneliti hubungan antara repetitive negative thinking dengan perubahan kognitif serta penanda biologis yang berkaitan dengan Alzheimer.
Dalam penelitian tersebut, peneliti mengikuti 292 orang dewasa yang secara kognitif masih tergolong normal untuk melihat perubahan kemampuan kognitif dari waktu ke waktu. Sebagian peserta juga menjalani pemindaian PET untuk melihat keberadaan amyloid dan tau di otak.
Peneliti kemudian menggunakan kelompok lain yang terdiri dari 68 orang untuk mereplikasi temuan terkait amyloid.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat repetitive negative thinking yang lebih tinggi berhubungan dengan penurunan kognisi global, termasuk memori jangka pendek maupun memori yang tertunda.
Pola berpikir negatif berulang juga dikaitkan dengan lebih tingginya akumulasi amyloid secara global serta tau di bagian entorhinal cortex, salah satu wilayah otak yang berkaitan dengan proses awal penyakit Alzheimer.
Repetitive negative thinking mencakup pola pikiran negatif yang terus berulang, seperti rumination atau terus memikirkan kejadian buruk di masa lalu. Selain itu, RNT juga dapat berupa kekhawatiran berulang mengenai hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan.
Meski demikian, Adam menekankan adanya hal penting dalam penelitian tersebut. Studi ini menemukan hubungan atau asosiasi antara repetitive negative thinking dengan perubahan kognitif dan penanda Alzheimer, bukan membuktikan kebiasaan berpikir negatif secara langsung menyebabkan Alzheimer.
“Nah tapi, penelitian ini sifatnya baru mencari hubungan ya, bukan sebab-akibat,” ujar Adam.
Para peneliti menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer.
Adam pun mengingatkan temuan tersebut dapat menjadi perhatian untuk mulai mengelola kebiasaan berpikir negatif demi menjaga kondisi otak. “Namun tetap perlu jadi alarm untuk kita agar lebih mengelola kebiasaan berpikir negatif untuk menjaga kondisi otak,” katanya.
Editor: Dani M Dahwilani