Sering Sembelit atau BAB Berdarah? Waspada Kanker Usus Besar
JAKARTA, iNews.id - Sembelit yang terjadi berulang kali atau buang air besar (BAB) disertai darah kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, perubahan pola BAB yang menetap perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker usus besar.
Kanker usus besar atau kanker kolorektal terjadi ketika sel abnormal tumbuh di usus besar. Penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal sehingga sebagian pasien baru menyadarinya ketika keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain sembelit dan BAB berdarah, gejala lain yang perlu diperhatikan meliputi diare berkepanjangan, perubahan bentuk atau frekuensi tinja, perut terasa tidak nyaman, serta sensasi BAB yang belum tuntas. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas dan tubuh mudah lelah juga perlu diperiksakan, terutama jika muncul bersamaan dengan keluhan pencernaan.
Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu menandakan kanker usus besar. Sembelit dapat disebabkan oleh kurangnya asupan serat, minim aktivitas fisik, atau kurang minum. Sementara itu, BAB berdarah juga dapat terjadi akibat wasir atau luka pada anus. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B, Subsp.BD(K), menjelaskan bahwa penanganan gangguan pencernaan perlu diawali dengan evaluasi kondisi pasien untuk menentukan penyebab keluhan.
"Tidak semua gangguan pencernaan memerlukan operasi. Kami terlebih dahulu mencari penyebab keluhan dan mengevaluasi kondisi pasien, kemudian menentukan terapi yang paling sesuai. Tujuannya bukan hanya menangani penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien," jelas dr. Eko, Senin (19/10/2026).
Perubahan pola BAB yang berlangsung terus-menerus, darah dalam tinja, atau nyeri perut yang berulang sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan perlu dilakukan, terlebih jika keluhan disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, anemia, atau riwayat keluarga dengan kanker kolorektal.
Dokter akan mengevaluasi gejala, riwayat kesehatan, serta faktor risiko pasien sebelum menentukan pemeriksaan lanjutan. Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk melihat kondisi bagian dalam usus besar adalah kolonoskopi. Melalui prosedur ini, dokter dapat memeriksa lapisan usus dan, jika ditemukan polip atau jaringan abnormal tertentu, mengambil sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut sesuai indikasi.
Deteksi dini berperan penting karena penanganan kanker usus besar ditentukan oleh stadium penyakit, lokasi tumor, kondisi pasien, dan hasil pemeriksaan. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menunggu sampai gejala semakin berat untuk berkonsultasi dengan dokter.
Penanganan kanker usus besar tidak sama pada setiap pasien. Dokter mempertimbangkan hasil pemeriksaan, luas penyebaran kanker, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan untuk menentukan terapi yang sesuai.
Pada pasien tertentu, operasi dilakukan untuk mengangkat bagian usus yang terkena kanker beserta jaringan di sekitarnya. Terapi lain, seperti kemoterapi atau radioterapi, dapat dipertimbangkan sesuai jenis dan lokasi kanker serta kebutuhan klinis pasien.
Untuk kanker usus besar dan kanker rektum, teknik bedah minimal invasif juga dapat menjadi pilihan bagi pasien yang memenuhi kriteria. Pendekatan ini menggunakan sayatan lebih kecil dibandingkan operasi terbuka, tetapi kelayakannya tetap bergantung pada kondisi tumor dan pertimbangan dokter.
“Pada kanker rektum, kami berupaya mempertahankan fungsi organ bila kondisi memungkinkan. Namun, keamanan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis tetap menjadi prioritas,” terang dr. Eko.
Dia menambahkan, keputusan mengenai tindakan bedah harus didasarkan pada pemeriksaan menyeluruh. Tidak semua pasien dapat menjalani prosedur yang sama karena lokasi dan tingkat perkembangan kanker bisa berbeda.
Selain mengenali gejala, masyarakat dapat menjaga kesehatan pencernaan melalui pola makan seimbang dengan asupan serat yang cukup, konsumsi air yang memadai, aktivitas fisik rutin, dan kebiasaan tidak merokok. Namun, pola hidup sehat bukan pengganti pemeriksaan ketika muncul gejala yang mencurigakan.
Orang yang memiliki faktor risiko tertentu, termasuk riwayat keluarga dengan kanker kolorektal, sebaiknya berkonsultasi mengenai waktu dan kebutuhan skrining. Pemeriksaan pada orang tanpa gejala berbeda dengan pemeriksaan diagnostik bagi mereka yang sudah mengalami keluhan.
Berbagai pemeriksaan saluran pencernaan, termasuk kolonoskopi, dapat membantu dokter menilai kondisi usus dan menentukan langkah berikutnya. Pemeriksaan lanjutan dan penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien, mulai dari terapi medis hingga tindakan bedah jika diperlukan.
Pada akhirnya, sembelit atau BAB berdarah tidak selalu berarti kanker. Namun, keluhan yang menetap, berulang, atau disertai gejala lain sebaiknya tidak dianggap sepele. Mengenali perubahan tubuh dan memeriksakannya sejak dini dapat membantu pasien memperoleh diagnosis serta penanganan yang tepat.
Editor: Muhammad Sukardi