Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kasus Gangguan Jiwa Anak dan Remaja di Indoensia 1,6 Kali Lebih Tinggi
Advertisement . Scroll to see content

Sering Susah Tidur dan Berat Badan Berubah Drastis? Bisa Jadi Tanda Gangguan Jiwa

Sabtu, 05 September 2026 - 07:06:00 WIB
Sering Susah Tidur dan Berat Badan Berubah Drastis? Bisa Jadi Tanda Gangguan Jiwa
Sering susah tidur, tubuh terasa lemas berulang, hingga berat badan berubah drastis ternyata bisa menjadi tanda gangguan kesehatan jiwa. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Sering susah tidur, tubuh terasa lemas berulang, hingga berat badan berubah drastis ternyata bisa menjadi tanda gangguan kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap perubahan fisik yang muncul bersamaan dengan gangguan emosi dan perilaku.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, gejala gangguan kesehatan jiwa dapat muncul dalam tiga ranah, yakni fisik, emosi, dan perilaku. Menurut dia, perubahan kondisi fisik menjadi salah satu tanda yang relatif mudah dikenali.

"Yang muncul dalam bentuk fisik itu yang paling sering ada gangguan pola tidur. Nah, kalau tidurnya udah keganggu, udah susah tidur, nah hati-hati. Kemudian merasa lemas berulang, kemudian perubahan berat badan yang tadinya gemuk kok menjadi kurus karena dia nggak mau makan, atau dari kurus jadi gemuk karena dia makan terus sebagai pelampiasan depresinya, itu juga jangan-jangan gangguan jiwa,” ujar Dante dalam temu media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026).

Menurut Dante, perubahan pola tidur dapat menjadi salah satu sinyal yang perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung berulang dan disertai perubahan kondisi lainnya.

Selain gangguan tidur dan rasa lemas, perubahan berat badan yang tidak biasa juga patut menjadi perhatian. Berat badan dapat turun karena seseorang kehilangan nafsu makan atau justru meningkat karena makan berlebihan sebagai bentuk pelampiasan.

Kemenkes sendiri mencatat angka gangguan kesehatan jiwa masih tinggi di berbagai kelompok usia. Berdasarkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026, sebanyak 186.629 orang dewasa dan lansia atau 0,66 persen terdeteksi mengalami gejala depresi.

Sementara pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, tercatat 34.961 orang atau 1,08 persen mengalami gejala depresi. Angka tersebut menunjukkan risiko gejala gangguan kesehatan jiwa pada kelompok anak dan remaja perlu mendapat perhatian serius.

Selain depresi, CKG mencatat 157.434 orang dewasa dan lansia atau 0,56 persen mengalami gejala cemas. Pada anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 33.290 orang atau 1,03 persen mengalami gejala cemas.

Dante menyebut data tersebut kemungkinan belum menggambarkan seluruh kondisi gangguan kesehatan jiwa di Indonesia.

"Ini juga fenomenanya gunung es, banyak sekali. Ini baru terdeteksi di CKG, yang tadi data dari WHO lebih besar lagi angkanya," katanya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan pada tubuh yang muncul secara berulang, terutama ketika disertai perubahan suasana hati maupun perilaku. Deteksi dan penanganan lebih awal penting agar kondisi kesehatan jiwa dapat segera mendapat perhatian yang tepat.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut