Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Desta Kena Musibah, Mata Kirinya Nyaris Buta gegara Terhantam Bola Padel
Advertisement . Scroll to see content

Softlens Hilang di Mata, Jangan Langsung Dicongkel! Begini Cara Mengatasinya

Sabtu, 03 Oktober 2026 - 19:43:00 WIB
Softlens Hilang di Mata, Jangan Langsung Dicongkel! Begini Cara Mengatasinya
Softlens yang tampak hilang umumnya terlipat atau bergeser dan tersangkut di bawah kelopak mata, terutama bagian atas. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Softlens tiba-tiba tidak terlihat di kornea mata membuat pengguna panik. Tak sedikit yang langsung mencoba mengorek mata karena khawatir lensa kontak tersebut masuk ke dalam mata.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Aditya Surya Pratama, mengingatkan agar kondisi tersebut tidak diatasi dengan cara sembarangan. Softlens yang tampak hilang umumnya terlipat atau bergeser dan tersangkut di bawah kelopak mata, terutama bagian atas.

“Kita bedah dari anatominya dulu biar kalian paham. Bagian depan bola mata dan bagian dalam kelopak mata itu dilapisi konjungtiva, dan jaringan ini membentuk semacam kantong tertutup atau conjunctival fornix,” ujar dr Aditya, dikutip Sabtu (3/10/2026).

Menurut dia, struktur anatomi tersebut membuat softlens tidak dapat bergerak hingga ke belakang bola mata atau masuk ke organ dalam tubuh.

“Jadi kalau kalian ngerasa softlens-nya kok hilang, ini biasanya dia terlipat atau bergeser dan nyangkut di bawah kelopak mata. Terutama kelopak mata bagian atas,” katanya.

Jangan Dikorek Pakai Kuku

Saat softlens tidak terlihat, pengguna sebaiknya tidak langsung mengorek atau mencungkil mata. Penggunaan kuku maupun benda lain untuk mencari lensa justru dapat menyebabkan iritasi atau melukai permukaan mata.

“Jadi kalau kamu softlens-nya hilang, itu jangan dikorek-korek, jangan panik, apalagi pakai kuku nih, terus ditusuk-tusuk pakai apa pun. Bahaya,” ujar dr Aditya.

Sebagai langkah awal, pengguna dapat mencoba berkedip secara perlahan. Gerakan tersebut dapat membantu merangsang keluarnya air mata sehingga lensa yang terlipat atau bergeser berpotensi berpindah posisi.

Selanjutnya, pengguna dapat menggunakan lubricating eye drops atau tetes mata pelumas untuk membantu melembapkan permukaan mata. Setelah itu, periksa area di bawah kelopak mata secara perlahan dan hati-hati.

“Jadi simpel, coba berkedip pelan-pelan, gunakan lubricating eye drops, dan periksa bagian bawah kelopak itu dengan hati-hati, atau bagian atas. Dan jangan pernah dicolok-colok,” kata dia.

Jika softlens masih belum ditemukan, pengguna sebaiknya tidak terus-menerus mencoba mengambilnya secara paksa. Terlebih jika mata mulai terasa sakit atau memerah.

Bahaya Perlu Diwaspadai

dr Aditya mengatakan kekhawatiran utama pengguna softlens bukanlah lensa yang masuk ke belakang bola mata, melainkan kebiasaan menggunakan lensa kontak terlalu lama, terutama saat tidur.

“Nah, justru yang harus kamu takutkan itu bukan masalah si softlens-nya masuk ke dalam tubuh, tapi softlens yang enggak pernah dilepas bahkan sampai ketika kamu tidur. Jadi masuk 24 jam, dari malam sampai pagi sampai besoknya lagi,” ujar dr Aditya.

Mengutip data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), dia menyebut tidur menggunakan lensa kontak dapat meningkatkan risiko infeksi mata hingga 6-8 kali lipat.

Risiko tersebut berkaitan dengan berkurangnya pasokan oksigen ke kornea saat mata tertutup. Kornea tidak memiliki pembuluh darah dan salah satu sumber oksigennya berasal dari udara melalui air mata.

“Kornea kita ini enggak punya pembuluh darah dan salah satu sumber oksigennya itu berasal langsung dari udara melalui air mata. Jadi ketika mata ditutup saat tidur, oksigen yang sampai ke kornea itu memang pasti akan berkurang,” katanya.

Permukaan kornea yang tertutup lensa kontak sepanjang malam dapat meningkatkan risiko kekurangan oksigen atau hipoksia kornea. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan pada permukaan epitel dan peradangan serta meningkatkan risiko infeksi.

Dalam kondisi serius, infeksi dapat berkembang menjadi microbial keratitis atau infeksi pada kornea. Pada kasus berat, kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan kornea dan membutuhkan penanganan medis serius.

Karena itu, pengguna lensa kontak perlu mewaspadai sejumlah gejala, seperti mata merah, nyeri, sensitif terhadap cahaya atau silau, mata berair, keluar kotoran secara terus-menerus, hingga penglihatan mendadak kabur.

Jika softlens tidak kunjung ditemukan dan muncul gejala tersebut, terutama nyeri atau mata semakin merah, segera periksakan kondisi mata ke dokter spesialis mata.

“Dan kalau kamu tetap nggak nemu, terus mata makin sakit, makin merah, periksa ke dokter mata. Dan ingat, jangan sampai lupa lepas softlens ketika kamu tidur. Itu kuncinya,” ujar dr Aditya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut