Tren Olahraga Lari Meningkat, Ini Tips agar Pelari Terhindar dari Hoaks

Vien Dimyati ยท Sabtu, 24 Agustus 2019 - 17:28 WIB
Tren Olahraga Lari Meningkat, Ini Tips agar Pelari Terhindar dari Hoaks

Hindari hoaks saat olahraga lari (Foto : Goodmenproject)

JAKARTA, iNews.id - Belakangan ini, tren lari di Indonesia terus meningkat. Ajang seru-seruan ini digemari anak muda hingga orang tua. Namun sayangnya, peningkatan ajang lari ini tidak disertai dengan edukasi yang benar.

Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Indonesia (ILUNI FKUI) mencatat terdapat total lima korban meninggal dalam empat ajang lari pada 2018 hingga pertengahan 2019.

Sehubungan dengan fakta tersebut, ILUNI FKUI menggelar kedokterRAN2019. Ini merupakan ajang lari untuk keluarga besar FKUI, sekaligus memberikan edukasi untuk meluruskan hoaks kesehatan terkait olahraga lari di Indonesia.

“Risiko cedera berpotensi sangat besar dalam ajang lari. Baik cedera langsung (traumatic injury) atau cedera tidak langsung (overused injury). Jika penanganan salah maka risikonya kematian mendadak," kata dr Jack Pradono Handojo, MHA, Ketua Pelaksana KedokteRAN2019, di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, kasus kematian mendadak yang terjadi saat ajang lari diduga akibat penanganan yang salah dan dipicu oleh hoaks kesehatan terkait olahraga lari. Hoaks kesehatan adalah informasi terkait kesehatan yang keliru dan belum terjamin serta teruji secara medis.



Salah satu contoh hoaks kesehatan misalnya informasi terkait dilarangnya minum selama berlari agar tidak muntah. “Faktanya, aktivitas lari membuat tubuh berkeringat sebagai tanda otot yang sedang bekerja, sehingga tubuh harus terhidrasi agar terhindar dari potensi sengatan tinggi (heat stroke)," kata dr Jack.

Selain itu, dr Jack menambahkan, banyak pelari menggunakan jaket parasut untuk membuat kurus. Padahal, hal tersebut tidak berpengaruh. Menurutnya, sepanas-panasnya suhu ketika mengenakan jaket parasut, tidak akan mencapai 100 derajat celcius. Suhu maksimal mengenakan jaket parasut hanya berkisar 38-39 derajat Celcius. "Ini tidak akan melelehkan lemak," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ajang lari ini diawali dengan rangkaian pre-event bertajuk “Road to KedokteRAN2019” pada Agustus-Oktober 2019. Ada tiga topik edukasi kesehatan yang dibahas yaitu tentang running injury dan sudden death prevention pada Agustus, Pelatihan Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada September, dan hidrasi sehat saat berolahraga pada Oktober.

Harapannya, acara ini dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat melalui ilmu dan profesi kedokteran. “Kami fokus agar tujuan gaya hidup sehat khususnya dalam konteks berolahraga dapat tercapai dengan prinsip zero accident or death,” katanya.

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH., dekan FKUI menyampaikan harapan agar alumni FKUI dapat memberi dan menjadi contoh dalam gaya hidup sehat di masyarakat. “Dekanat sangat peduli terhadap upaya pencegahan penyakit masyarakat Indonesia,” ujar dr Ari.

Selain itu, Ketua I Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Indonesia (ILUNI FKUI) dr. Ratna Rosita Hendardji, MPHM menambahkan, kegiatan KedokteRAN 2019 adalah implementasi visi dan misi serta bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang tercermin dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“ILUNI FKUI selalu berusaha memberikan manfaat dan kontribusi untuk masyarakat dalam setiap kegiatan yang kami lakukan, seperti tahun sebelumnya saat kami menyelenggarakan khitanan massal untuk anak yatim dan dhuafa se-Jabodetabek,” ujar Ratna.

Kegiatan ini juga mengajak komunitas lari Jakarta untuk ikut serta mensosialisasikan edukasi mengenai pencegahan risiko kematian dalam berlari.

Sekjen Jakarta Berlari Muhammad Nur Kamaluddin mengatakan, setidaknya setahun terakhir sejak 2018 tercatat tiga korban jiwa meninggal di acara yang berbeda, dan di awal Agustus 2019, ada dua korban jiwa meninggal dalam ajang lari yang sama.

Padahal kegiatan ajang lari meningkat 33 persen dari 288 kegiatan di tahun 2017, hingga 341 pada 2018. Dia mencatat hingga pertengahan tahun ini saja sudah terdapat 253 kegiatan.

“Risiko kematian mendadak dalam ajang lari perlu diantisipasi, jangan sampai korban makin meningkat dalam acara yang justru seharusnya menjadi kegiatan yang menyehatkan. KedokteRAN2019 ini patut diapresiasi dengan baik, karena bukan ajang lari biasa tapi edukasi tentang bagaimana kita bisa mengenali kondisi tubuh kita dan menangani risiko kesehatan saat berlari. Acara ini beda dan unik,” tutur Kamal.

Editor : Vien Dimyati