Viral Wanita 63 Tahun Melahirkan, Prosedur IVF dan Terapi Hormon Kompleks Rahasianya!
JAKARTA, iNews.id - Keberhasilan wanita berusia 63 tahun di Azerbaijan melahirkan anak pertamanya setelah menanti 38 tahun menjadi perhatian dunia. Di usia yang jauh melampaui masa menopause, ia berhasil menjalani kehamilan hingga persalinan dalam kondisi selamat.
Kehamilan tersebut dicapai melalui In Vitro Fertilization (IVF) atau program bayi tabung yang dipadukan dengan terapi hormon. Kombinasi kedua prosedur ini memungkinkan rahim tetap mampu menopang kehamilan meski fungsi reproduksi alami telah berhenti akibat menopause.
Kasus tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana perkembangan teknologi reproduksi mampu membantu pasangan yang telah lama berjuang melawan infertilitas, meski tetap memerlukan pengawasan medis yang sangat ketat.

IVF merupakan salah satu metode dalam Assisted Reproductive Technology (ART) atau Teknologi Reproduksi Berbantu.
Pada prosedur IVF, proses pembuahan tidak terjadi di dalam tubuh, melainkan dilakukan di laboratorium. Sel telur dan sperma dipertemukan hingga membentuk embrio. Setelah berkembang selama beberapa hari, embrio kemudian dipindahkan ke dalam rahim melalui prosedur yang dikenal sebagai embryo transfer.
Pada wanita yang telah menopause seperti pasien asal Azerbaijan tersebut, keberhasilan IVF tidak hanya bergantung pada kualitas embrio, tetapi juga kesiapan rahim untuk menerima dan mempertahankan kehamilan.
Setelah menopause, tubuh perempuan mengalami penurunan drastis hormon estrogen dan progesteron. Akibatnya, lapisan rahim atau endometrium menjadi tipis sehingga tidak lagi siap menjadi tempat tumbuh kembang embrio.
Karena itu, dokter memberikan terapi hormon untuk menggantikan hormon yang sudah tidak lagi diproduksi tubuh secara optimal. Pemberian estrogen bertujuan menebalkan lapisan rahim, sedangkan progesteron membantu mempertahankan kondisi rahim agar embrio dapat menempel dan berkembang dengan baik.
Setelah kondisi rahim dinilai siap, embrio hasil IVF dipindahkan ke dalam rahim. Bila berhasil menempel, pasien tetap harus melanjutkan terapi hormon sesuai kebutuhan serta menjalani pemantauan rutin hingga kehamilan dinyatakan stabil.
Kehamilan pada perempuan berusia di atas 35 tahun saja sudah dikategorikan sebagai advanced maternal age atau usia ibu lanjut. Pada usia 63 tahun, risikonya jauh lebih besar.
Wanita hamil pada usia lanjut memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, gangguan jantung, preeklamsia, hingga kelahiran prematur. Oleh karena itu, dokter biasanya melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi ibu dan janin.
Dalam kasus wanita asal Azerbaijan tersebut, dokter spesialis fertilitas Dr. Natig Mammadov mengungkapkan bahwa pasien berada di bawah pengawasan medis secara terus-menerus sejak awal kehamilan hingga proses persalinan.
Tim medis juga menerapkan pemantauan janin secara berkala, pengaturan nutrisi khusus, serta memilih operasi caesar pada waktu yang dianggap paling aman guna meminimalkan risiko komplikasi.
Meski banyak orang menyamakan ART dengan IVF, keduanya sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda.
ART merupakan istilah yang mencakup seluruh teknologi reproduksi berbantu yang melibatkan penanganan sel telur, sperma, atau embrio di laboratorium. Salah satu metode ART yang paling umum adalah IVF.
Dengan kata lain, IVF adalah bagian dari ART, bukan sebaliknya.
Menjadi catatan, keberhasilan wanita berusia 63 tahun tersebut memang menjadi pencapaian luar biasa dalam dunia kedokteran reproduksi. Namun, para ahli menegaskan bahwa kasus seperti ini sangat jarang terjadi.
Kehamilan pada usia sangat lanjut hanya dapat dilakukan setelah melalui serangkaian pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi jantung, pembuluh darah, ginjal, serta organ vital lainnya mampu menopang kehamilan.
Selain itu, prosesnya membutuhkan fasilitas kesehatan berteknologi tinggi, tim dokter multidisiplin, serta pemantauan intensif sejak sebelum embrio ditanam hingga bayi dilahirkan.
Hingga kini, tim medis yang menangani pasien di Azerbaijan juga belum mengungkapkan secara rinci apakah prosedur IVF tersebut menggunakan sel telur pasien sendiri atau donor. Karena itu, informasi tersebut belum dapat dipastikan.
Meski demikian, kisah wanita yang akhirnya menjadi ibu di usia 63 tahun setelah menanti selama 38 tahun menjadi bukti bahwa kemajuan ilmu kedokteran terus membuka peluang baru bagi pasangan yang berjuang melawan infertilitas, meski tetap disertai risiko dan pertimbangan medis yang sangat ketat.
Editor: Muhammad Sukardi