Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Gejala Virus Baru ALTNV Disebabkan Gigitan Kutu, Demam hingga Kelelahan
Advertisement . Scroll to see content

Virus Baru ALTNV Mematikan? Ini Jawabannya!

Jumat, 11 September 2026 - 16:04:00 WIB
Virus Baru ALTNV Mematikan? Ini Jawabannya!
Ilustrasi pasien yang sakit infeksi virus. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Virus baru yang ditularkan melalui gigitan kutu ditemukan di China. Virus tersebut diberi nama Asian longhorned tick nairovirus (ALTNV) dan dapat menyebabkan penyakit demam dengan gejala yang menyerupai flu.

Penemuan ALTNV tentu menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa berbahaya virus tersebut bagi manusia. Terlebih, dalam penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, terdapat pasien yang meninggal setelah mengalami infeksi ALTNV.

Namun, ada hal penting yang perlu digarisbawahi. Kematian dalam penelitian tersebut terjadi pada pasien yang mengalami koinfeksi ALTNV dan Dabie bandavirus (DBV), bukan pada pasien yang hanya terinfeksi ALTNV. 

Peneliti mengidentifikasi 56 pasien yang mengalami infeksi ALTNV tanpa DBV.

Gejala yang paling sering ditemukan berupa penyakit mirip influenza, terutama kelelahan dan gangguan saluran pencernaan. Sebanyak 84 persen pasien mengalami kelelahan, sementara 80 persen mengalami masalah gastrointestinal.

Selain itu, 38 persen pasien mengalami trombositopenia atau penurunan jumlah trombosit, sedangkan 36 persen mengalami peningkatan kadar aminotransferase yang dapat mengindikasikan peradangan atau cedera pada hati maupun jaringan lain. 

Meski menimbulkan sejumlah gejala dan perubahan pada hasil pemeriksaan darah, seluruh pasien dalam kelompok yang hanya terinfeksi ALTNV tersebut dilaporkan pulih tanpa gejala sisa.

Artinya, berdasarkan data penelitian yang tersedia saat ini, ALTNV belum menunjukkan bahwa infeksi tunggal virus tersebut memiliki tingkat keparahan yang tinggi atau mematikan.

Risiko Lebih Besar saat Terjadi Koinfeksi

Kondisinya berbeda ketika ALTNV ditemukan bersama Dabie bandavirus (DBV). DBV merupakan virus yang menyebabkan severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS), penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi berat.

Dalam penelitian, terdapat 38 pasien yang mengalami koinfeksi ALTNV dan DBV.

Dibandingkan pasien yang hanya terinfeksi DBV, kelompok koinfeksi lebih sering mengalami gejala pernapasan, yakni 61 persen berbanding 38 persen.

Gangguan fungsi ginjal juga lebih banyak ditemukan pada kelompok tersebut, yakni 84 persen dibandingkan 66 persen pada pasien yang hanya mengalami infeksi DBV. 

Yang menjadi perhatian, 7 dari 38 pasien dengan koinfeksi meninggal dunia, atau sekitar 18,4 persen.

Namun, angka tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai angka kematian akibat ALTNV. Pasalnya, seluruh pasien yang meninggal juga mengalami infeksi DBV.

Para peneliti menyebut koinfeksi ALTNV dan DBV berkaitan dengan kondisi penyakit yang lebih berat, tetapi penelitian tersebut belum membuktikan bahwa ALTNV secara langsung menyebabkan kematian pasien. 

Mengapa Penemuan Virus ALTNV Penting?

ALTNV ditemukan setelah peneliti menyelidiki pasien dengan penyakit demam dan riwayat paparan kutu yang memiliki gejala mirip SFTS, tetapi tidak terbukti terinfeksi DBV.

Dari 3.163 pasien yang diperiksa, 10,4 persen dinyatakan positif ALTNV berdasarkan keberadaan RNA virus atau antibodi IgM. Di antara pasien yang negatif DBV, 15,1 persen ternyata positif ALTNV. 

Peneliti juga menemukan RNA ALTNV pada 1,29 persen dari 47.428 kutu yang dikumpulkan dari 15 provinsi di China.

Virus tersebut terutama ditemukan pada Haemaphysalis longicornis, yang dikenal sebagai Asian longhorned tick. Eksperimen lebih lanjut menunjukkan kutu jenis tersebut dapat menularkan virus kepada tikus.

Temuan ini menunjukkan ALTNV bukan sekadar virus yang ditemukan secara kebetulan di laboratorium. Virus tersebut memiliki kaitan dengan penyakit demam pada manusia dan beredar pada populasi kutu di sejumlah wilayah.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut