Virus Nipah Jadi Ancaman Dunia Sekarang, Ahli Beberkan Alasannya!
JAKARTA, iNews.id - Dunia kembali dihadapkan pada ancaman penyakit menular berbahaya. Kali ini, virus Nipah dilaporkan tengah merebak di India dan sudah menunjukkan tanda penularan antarmanusia.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan awal mula kasus ini ditemukan di India dan menerangkan alasan virus ini membahayakan dunia.
Menurut Prof Tjandra, kasus awal virus Nipah terjadi di Kota Barasat, Negara Bagian West Bengal, India, dan bermula dari dua orang perawat. Satu perawat laki-laki dilaporkan sudah membaik, sementara perawat perempuan masih dalam kondisi kritis dan dirawat intensif di ICCU.
Dari dua kasus awal tersebut, virus kemudian menyebar ke sedikitnya tiga orang lain, menandakan penularan antarmanusia telah terjadi. Total, ada lima kasus virus Nipah di India hingga sekarang, dan membuat 100 orang dikarantina.
Tanda-Tanda Terkena Virus Nipah, Demam Tinggi hingga Peradangan Otak
"Sekarang ada sekitar 100 orang yang merupakan kontak erat dari kasus-kasus ini dan sedang menjalani karantina serta pengawasan ketat," ujar Prof Tjandra saat dihubungi iNews.id, Senin (26/1/2026).
Virus Nipah dikenal sebagai virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae yang bersifat zoonotik. Artinya, virus ini awalnya menular dari hewan ke manusia, seperti kelelawar dan babi, sebelum akhirnya bisa menyebar antarmanusia. Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Virus Nipah Menyerang Negara Tetangga Indonesia, Wajib Waspada!
Sejak pertama kali muncul pada 1998–1999 di Malaysia, dunia telah mencatat sekitar 750 kasus virus Nipah. Selain Malaysia, wabah ini pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Filipina, hingga Singapura, wilayah yang secara geografis cukup dekat dengan Indonesia.
Prof Tjandra menerangkan, masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4 hingga 21 hari, bahkan dalam beberapa kasus bisa lebih lama. Gejala awal sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa lemah.
Namun, kondisi dapat memburuk dengan cepat. Dua organ yang paling sering terdampak adalah paru-paru dan otak.
"Pada paru-paru, pasien bisa mengalami batuk, sesak napas, hingga pneumonia berat yang berujung gagal napas. Sementara pada otak, infeksi dapat menyebabkan ensefalitis atau meningitis, dengan gejala kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma," ungkap Prof Tjandra.
"Kalau sudah berat, angka kematiannya bisa mencapai 40 sampai 75 persen," kata Prof Tjandra.
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk mencegah atau mengobati penyakit akibat virus Nipah.
Editor: Muhammad Sukardi