Warning! Kematian akibat DBD Paling Banyak pada Anak Usia 5-14 Tahun
JAKARTA, iNews.id – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Indonesia, terutama bagi anak-anak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap fakta memprihatinkan.
Ya, menurut Kemenkes, kelompok usia 5-14 tahun menjadi kelompok dengan angka kematian akibat dengue tertinggi, meski kasus terbanyak justru terjadi pada usia produktif.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat, khususnya para orang tua, agar tidak lengah memberikan perlindungan kepada anak dari gigitan nyamuk penyebab DBD. Upaya pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika anak sudah terinfeksi.
Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI yang diwakili Agus Handito mengungkapkan, pada 2025, Indonesia mencatat sekitar 161 ribu kasus dengue dengan lebih dari 600 kematian. Sementara hingga pertengahan 2026, telah tercatat sekitar 50 ribu kasus dengan lebih dari 100 kematian.

Menurut Agus, hingga 2025 kelompok usia 15-44 tahun masih menjadi penyumbang kasus dengue terbanyak. Namun, angka kematian paling banyak justru terjadi pada anak usia 5-14 tahun.
"Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan," kata Agus di acara ASEAN Dengue Day 2026 di Jakarta, belum lama ini.
Dia melanjutkan, "Pendekatan kolaboratif berbasis bukti harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program menuju target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030."
Melihat tingginya angka kematian pada anak, Kemenkes mengingatkan para orang tua agar lebih waspada terhadap risiko DBD. Anak-anak yang aktif beraktivitas di luar rumah maupun di lingkungan sekolah memiliki peluang lebih besar terpapar gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Karena itu, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan dan melindungi anak dari gigitan nyamuk perlu diterapkan setiap hari, bukan hanya saat terjadi peningkatan kasus DBD.
Selain menjaga rumah tetap bersih dan bebas genangan air, masyarakat juga diimbau rutin menerapkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta melakukan berbagai upaya tambahan untuk menghindari gigitan nyamuk.
Agus menilai sekolah juga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini.
"Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat melalui Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+, sehingga budaya pencegahan DBD dapat ditanamkan sejak usia dini dan diterapkan secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga," katanya.
Pesan serupa disampaikan aktris Ririn Ekawati yang hadir dalam peringatan ASEAN Dengue Day 2026 bersama putrinya. Sebagai seorang ibu, Ririn menilai perlindungan anak dari DBD harus dimulai dari lingkungan keluarga melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, orang tua memiliki peran besar dalam mengajarkan anak menjaga kebersihan lingkungan, membiasakan perilaku hidup sehat, serta melindungi diri dari gigitan nyamuk saat beraktivitas di dalam maupun luar rumah.
Ririn berharap semakin banyak keluarga yang menyadari bahwa pencegahan DBD merupakan tanggung jawab bersama, sehingga risiko penyakit tersebut pada anak dapat ditekan.
Dalam kesempatan yang sama, Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, RM Ardiantara, mengatakan edukasi kepada anak-anak merupakan salah satu langkah penting untuk membangun budaya pencegahan DBD secara berkelanjutan.
"Kami berharap Gerakan 3M+ tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat," ujar Ardiantara.
"Kami berharap semangat Gerakan Bebas Dengue yang dimulai dari Indonesia dapat menginspirasi lahirnya inisiatif serupa di negara-negara ASEAN lainnya," ujar Ardiantara.
Pemerintah sendiri menargetkan Indonesia Zero Dengue Death 2030, yakni tidak ada lagi kematian akibat DBD pada 2030. Target tersebut diyakini hanya dapat tercapai apabila upaya pencegahan dilakukan secara konsisten dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga sektor swasta.
Editor: Muhammad Sukardi