Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Abu Vulkanik Bisa Sebabkan Kanker? Ini Faktanya!
Advertisement . Scroll to see content

Waspada! Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru dalam Jangka Panjang

Rabu, 09 September 2026 - 16:10:00 WIB
Waspada! Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru dalam Jangka Panjang
Podcast Holadok bersama Dokter Spesialis Paru Primaya Evasari Hospital dr Shinta Chairiah, Sp.P, M.M, AIFO-K. (Foto: Youtube)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau ternyata tidak bisa dianggap sebagai debu biasa. Jika terhirup, partikel berukuran sangat kecil di dalam abu dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, bahkan mencapai alveolus atau kantong udara di paru.

Dokter Spesialis Paru Primaya Evasari Hospital dr Shinta Chairiah, Sp.P, M.M, AIFO-K menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda, karena mengandung komponen padat berupa serpihan batuan, mineral, dan kaca silika.

Material tersebut memiliki bentuk yang tidak benar-benar halus karena terdapat bagian yang tajam. Ukurannya pun bisa sangat kecil, sehingga berpotensi masuk ke saluran pernapasan bagian bawah.

"Komponen padatnya ini, dia itu berisi kayak serpihan bebatuan, serpihan mineral, dan juga kaca silika. Nah itu yang namanya serpihan, dia bukan berbentuk halus, mulus, enggak. Tapi dia potongan-potongan yang ujung-ujung ataupun sudutnya itu tajam," kata dr Shinta dalam podcast Holadok iNews - MNC Trijaya FM, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, partikel yang berukuran lebih besar masih dapat dibersihkan oleh mekanisme alami tubuh melalui sistem mucociliary clearance. Namun, partikel yang sangat kecil dapat lolos dari mekanisme tersebut dan masuk hingga ke bagian terdalam paru.

"Kalau dia ukurannya di atas 10 PM itu masih bisa dikeluarkan oleh sistem pembersihan tubuh, mucociliar clearance. Nah, cuma kalau dia ukuran sangat kecil dia pasti akan lolos masuk ke dalam, mengendap sampai ke kantong-kantong pernapasan atau yang dibilang alveolus," ujar dr Shinta.

Partikel Silika Bisa Merusak Alveolus

Masuknya partikel kecil ke alveolus menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Dokter Shinta menjelaskan, kandungan silika pada abu vulkanik memiliki karakter tajam, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan di bagian tersebut.

"Di situ karena abu vulkanik ini ada silika, silika ini dia sangat tajam. Dia satu komponen ataupun material yang sangat tajam yang bisa menembus ke dinding alveolus," kata dia.

Kerusakan tersebut, lanjut dr Shinta, dapat memicu terbentuknya jaringan parut atau sikatrik pada alveolus. Dalam kondisi paparan yang berlangsung lama, proses tersebut dapat berkembang menjadi fibrosis paru.

Dia juga menyebut silikosis dapat terjadi apabila seseorang mengalami pajanan abu vulkanik dalam waktu yang sangat lama.

"Jadi, silikosis itu akan terjadi jika pajanan dari abu vulkanik ini terjadi dalam waktu yang sangat lama, 5 sampai 10 tahun biasanya," kata dr Shinta.

Paparan Akut Juga Bisa Memicu Gangguan Pernapasan

Bukan hanya paparan bertahun-tahun yang perlu diperhatikan. Dalam kondisi paparan akut, abu vulkanik juga dapat mengiritasi saluran pernapasan dan membuat pertahanan paru terganggu.

Dokter Shinta menjelaskan, iritasi tersebut dapat membuat saluran pernapasan lebih mudah mengalami infeksi. Kondisi yang dapat muncul antara lain bronkitis hingga pneumonia.

"Kalau yang baru-baru ini, akut ya, pasti akan infeksi saja, karena dia mengiritasi. Iritasi, pertahanan jadi rusak, jadi bakteri, virus dan jamur apa pun yang harusnya bisa dikalahkan oleh imun kita yang ada di alveolus, itu dia nggak bisa mengalahkannya," jelasnya.

Menurut dia, bronkitis berkaitan dengan infeksi atau gangguan pada saluran pernapasan, sedangkan pneumonia terjadi ketika infeksi telah mencapai bagian paru yang lebih dalam.

3 Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada

Risiko paparan abu vulkanik tidak sama pada setiap orang. Mereka yang sebelumnya memiliki gangguan atau penyakit paru dapat menjadi lebih sensitif terhadap paparan.

Dokter Shinta menyebut, penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta orang yang pernah mengalami tuberkulosis (TBC) atau Covid-19 termasuk kelompok yang perlu lebih waspada.

"Pokoknya semua yang sudah pernah merusak saluran napas dan pertahanannya itu pasti akan sensitif juga," kata dia.

Kerusakan atau gangguan sebelumnya pada saluran pernapasan dapat membuat mekanisme pertahanan paru tidak bekerja seoptimal kondisi normal.

Karena itu, perlindungan terhadap paparan abu vulkanik menjadi penting, terutama ketika aktivitas erupsi masih berlangsung dan abu masih ditemukan di lingkungan sekitar.

Selain orang dengan komorbid, anak-anak dan lansia juga masuk dalam kelompok rentan. Untuk kelompok rentan, dr Shinta bahkan menyarankan agar aktivitas di luar rumah dikurangi jika kondisi memungkinkan.

"Kalau bisa nggak keluar rumah, mendingan nggak keluar rumah," ujarnya.

Dengan karakteristik partikel yang dapat berukuran sangat kecil dan berpotensi mencapai bagian terdalam paru, abu vulkanik memang perlu diwaspadai, terutama jika paparan terjadi berulang atau dalam waktu panjang.

Namun, bukan berarti setiap paparan abu vulkanik otomatis menyebabkan fibrosis atau silikosis. Risiko kerusakan jangka panjang berkaitan dengan tingkat dan durasi pajanan serta kondisi kesehatan masing-masing orang. Yang jelas, mengurangi paparan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan paru.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut