Waspada Pecah Pembuluh Darah Otak, Gejalanya Berawal dari Nyeri Sekitar Mata

Vien Dimyati ยท Sabtu, 18 September 2021 - 06:16:00 WIB
Waspada Pecah Pembuluh Darah Otak, Gejalanya Berawal dari Nyeri Sekitar Mata
Waspada Pecah Pembuluh Darah Otak (Foto: Mens Health)

JAKARTA, iNews.id - Kondisi aneurisma otak kerap diabaikan banyak orang. Padahal, kondisi ini sangat berbahaya jika tidak ditangani sejak dini. 

Aneurisma otak memang belum banyak dipahami masyarakat. Namun diperkirakan sekitar 500.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. 

Kepala Bedah Saraf Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), dr. Abrar Arham mengatakan, aneurisma otak merupakan kondisi di mana dinding pembuluh darah otak melebar atau menonjol (ballooning) akibat lemahnya dinding pembuluh darah tersebut.

Jika aneurisma pecah dapat mengakibatkan kondisi fatal yaitu perdarahan otak (subarachnoid) dan kerusakan otak. Pecahnya aneurisma ini diperkirakan dialami oleh 1 orang setiap 18 menit. 

"Aneurisma otak dapat terjadi pada siapa saja, dan umumnya sebelum pecah aneurisma tidak bergejala, sehingga dianjurkan untuk melakukan brain check- up secara rutin," ujar dr. Abrar melalui keterangan virtualnya belum lama ini.

Menurut dr Abrar, aneurisma otak memiliki dampak besar. Memang tidak selalu berujung pada kematian. Namun, kualitas hidup penderitanya juga menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Kecacatan, perawatan, tenaga, dan biaya besar menjadi faktor penting yang perlu dipahami oleh penderita aneurisma otak. 

Itu sebabnya, pada 2021 ini, Brain Aneurysm Awareness Month yang jatuh pada September, mengangkat tema ‘Raising Awareness, Supporting Survivors, Saving Lives’. 

“Selain meningkatkan awareness masyarakat akan aneurisma otak, kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia juga harus ditingkatkan agar dapat mendeteksi dini, melakukan edukasi pencegahan, dan penanganan komprehensif aneurisma terutama pada penderita yang telah mengalami pecahnya aneurisma otak, atau akan lebih baik bila dapat ditangani sebelum aneurisma tersebut pecah," ujar dr. Abrar Arham.

Dia menjelaskan, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), saat ini menangani kurang lebih 100 kasus aneurisma otak setiap tahunnya. Penanganan kasus aneurisma otak membutuhkan kolaborasi multidisiplin melibatkan dokter bedah saraf, neurointervensionist, neurologist, intensivist, dan lain sebagainya. 

"Di samping itu, diperlukan berbagai peralatan dan fasilitas penunjang yang memadai dan mutakhir agar kita dapat menangani kasus aneurisma otak dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik,” ujar dr Abrar.

Penanganan aneurisma, lanjutnya, dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain operasi bedah mikro (clipping aneurisma) atau dengan teknik minimal invasif endovaskular (coiling aneurisma). Untuk mengevaluasi secara detail kelainan pembuluh darah otak ini, dibutuhkan pemeriksaan DSA (Digital Subtraction Angiography), yang hasilnya dapat membantu menentukan jenis terapi terbaik untuk menangani kasus aneurisma. 

Editor : Vien Dimyati

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: