Drive Kenang Didi Kempot sebagai Musisi Ajaib yang Dicintai Semua Generasi

Siska Permata Sari ยท Rabu, 06 Mei 2020 - 22:46 WIB
Drive Kenang Didi Kempot sebagai Musisi Ajaib yang Dicintai Semua Generasi

Grup band Drive mengenang maestro campursari Didi Kempot. (Foto: iNews.id/Tuty Ocktaviany)

JAKARTA, iNews.id - Industri musik baru saja berduka karena kehilangan sosok musisi besar. Pelantun lagu campursari sekaligus seniman tradisional, Didi Kempot meninggal dunia di usia 53 tahun pada 5 Mei 2020.

Kepergian pelantun ‘Pamer Bojo’ tersebut menyisakan duka bagi masyarakat Indonesia. Termasuk sesama musisi yang mengagumi kiprah pria asal Solo itu di industri musik Tanah Air.

Salah satunya adalah grup band Drive, yang mengenang Didi Kempot sebagai musisi panutan yang dicintai semua generasi dan kalangan. Kekaguman itu diungkapkan sang vokalis, Rizki Abdurahman.

Bagi Rizki, Didi Kempot adalah sosok musisi yang konsisten dengan karyanya sejak awal hingga kini dikenal kaum milenial.

“Beliau adalah salah satu maestro musik. Beliau pertama mengeluarkan album tahun 1989 dan menghasilkan karya lagu ‘Cidro’ yang dari situ konsisten dengan tema musik patah hati, sampai akhirnya generasi milenial sekarang bisa mengenal musiknya, sampai ada pasukan sobat ambyar,” kata Rizki saat live Musyik Asyik di YouTube iNews Portal, Rabu (6/5/2020).

Baginya, Didi Kempot adalah musisi ajaib dengan bakat yang jarang dipunyai oleh musisi lainnya. “Saya mulai ikutin Mas Didi Kempot itu tahun 2000-an, waktu masih lagu ‘Stasiun Balapan’,” ucapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan bassist Drive, Ilhamsyah Dyego Pratama. Dia kagum bagaimana karya Didi Kempot bisa dinikmati oleh banyak orang, berbeda generasi, dan suku.

“Beliau orang yang luar biasa, membuat lagu bergenre koplo dan berbahasa daerah, bisa dinikmati sensasional. Bukan orang Jawa pun bisa menikmati musik-musiknya,” kata Dyego.

Dia juga mengungkapkan akan belajar dari musisi asal Solo tersebut bagaimana caranya agar bisa dicintai berbagai generasi, seperti Didi Kempot yang dicintai kaum milenial.

“Indonesia kehilangan sosok yang dikagumi pastinya,” tutur dia.

Editor : Tuty Ocktaviany