Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Doa Menjelang Buka Puasa, Umat Muslim Perlu Mengamalkan 
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id -  Berikut ini hikmah puasa Ramadhan yang perlu diketahui setiap muslim. Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu. 

Puasa Ramadhan memiliki banyak manfaat dan hikmah, baik dari segi spiritual, sosial, maupun kesehatan. Namun, apa sebenarnya hikmah dibalik disyariatkannya puasa Ramadhan? Mengapa Allah SWT mewajibkan puasa kepada umat-Nya?

Memasuki Ramadhan , umat Islam diperintahkan Allah SWT menjalankan ibadah puasa. Kewajiban ini termaktub dalam 4 ayat tentang puasa di surat Al Baqarah.

Inilah beberapa ayat yang berkaitan dengan perintah puasa Ramadhan:

 Q.S Al Baqarah ayat 183.


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Q.S Al Baqarah ayat 184


اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗووَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَييْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”


Q.S Al Baqarah ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْققَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Q.S Al Baqarah ayat 187.

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّههُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُممْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْاا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
“Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu.
Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”

Hikmah Puasa Ramadhan

1. Meningkatkan Ketaqwaan

Ketaqwaan adalah sikap hati yang selalu takut dan taat kepada Allah SWT, serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Ketaqwaan adalah tujuan utama dari ibadah puasa, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah: 183).

Puasa Ramadhan dapat meningkatkan ketaqwaan karena seseorang yang berpuasa rela menahan lapar, haus, dan hal-hal yang membatalkan puasanya demi mengharap pahala dari Allah SWT. Seseorang yang berpuasa juga harus menjaga lisan, pandangan, pendengaran, dan perbuatan dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan berdosa.

Dengan demikian, puasa Ramadhan dapat membentuk karakter yang taat, tunduk, dan patuh kepada Allah SWT.

2. Melatih Kesabaran dan Disiplin

Kesabaran adalah kemampuan untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak disukai atau menyakitkan, baik dari segi fisik maupun psikis. Disiplin adalah kemampuan untuk mengatur diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku, baik dari segi waktu maupun perilaku. Kesabaran dan disiplin adalah dua sifat yang sangat penting bagi seorang muslim, karena dengan keduanya ia dapat menjalankan kewajiban dan menghindari larangan Allah SWT.

Puasa Ramadhan adalah salah satu cara untuk melatih kesabaran dan disiplin. Seseorang yang berpuasa harus bersabar menahan lapar, haus, dan keinginan-keinginan lainnya selama siang hari. Ia juga harus disiplin dalam mengatur waktu untuk bangun sahur, shalat, berbuka, tarawih, dan ibadah-ibadah lainnya. Ia juga harus disiplin dalam menjaga ucapan dan tindakannya agar tidak merusak puasanya. Dengan demikian, puasa Ramadhan dapat membiasakan seseorang untuk bersabar dan disiplin dalam kehidupannya.

3. Mengekang Syahwat dan Melemahkan Godaan Setan

Syahwat adalah keinginan atau nafsu yang berlebihan terhadap sesuatu yang disukai, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat jasmani. Syahwat adalah salah satu musuh terbesar bagi seorang muslim, karena dengan syahwat ia dapat terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf ayat 53:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Yusuf: 53).

Puasa Ramadhan adalah salah satu cara untuk mengekang syahwat dan melemahkan godaan setan. Seseorang yang berpuasa harus menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri selama siang hari. Ia juga harus menjauhi hal-hal yang dapat membangkitkan syahwatnya, seperti melihat yang bukan mahram, mendengar musik, atau menonton hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan demikian, puasa Ramadhan dapat membersihkan hati dan jiwa dari kotoran syahwat.

Selain itu, puasa Ramadhan juga dapat melemahkan godaan setan, karena setan adalah musuh yang senantiasa menggoda manusia untuk berbuat dosa dan maksiat. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya: “Jika telah masuk bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, puasa Ramadhan dapat memberikan perlindungan dan keselamatan bagi seorang muslim dari godaan setan.

4. Menumbuhkan Rasa Empati dan Solidaritas
 

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, terutama yang sedang mengalami kesulitan atau penderitaan. Solidaritas adalah sikap saling tolong menolong dan berbagi dengan orang lain, terutama yang membutuhkan bantuan atau pertolongan. Empati dan solidaritas adalah dua sifat yang sangat mulia bagi seorang muslim, karena dengan keduanya ia dapat menunjukkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama makhluk Allah SWT.

Puasa Ramadhan adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa empati dan solidaritas. Seseorang yang berpuasa dapat merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus, sehingga ia dapat lebih menghargai nikmat Allah SWT dan lebih peduli terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Ia juga dapat lebih mudah berbagi dengan orang lain, baik dengan memberikan makanan untuk berbuka, menyantuni anak yatim, atau membayar zakat fitrah. Dengan demikian, puasa Ramadhan dapat meningkatkan rasa persaudaraan dan kebersamaan di antara umat muslim.

Demikianlah hikmah puasa Ramadhan. Semoga Allah mudahkan kita untuk bertemu dan beribadah di bulan yang mulia. 

Editor: Komaruddin Bagja

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut