Hikmah

Khutbah Nabi Muhammad SAW ketika Haji Wada

Kastolani · Jumat, 26 November 2021 - 06:32:00 WIB
Khutbah Nabi Muhammad SAW ketika Haji Wada
Khutbah Nabi Muhammad SAW ketika Haji Wada berisi pesan bagi umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah-nya. (Foto: Freepik)

JAKARTA, iNews.id - Khutbah Nabi Muhammad SAW ketika Haji Wada atau perpisahan berisi sejumlah pesan menyentuh bagi umat Islam.
Khutbah Haji Wada tersebut disampaikan Nabi Muhammad SAW di Padang Arafah pada tahun ke-10 Hijriyah. 

Sejarah telah mencatat 81 hari sesudah turunnya ayat ini Nabi Muhammad saw pun wafat setelah menunaikan risalahnya selama kurang lebih 23 tahun. 

Disebutkan dalam sebuah riwayat, setelah Fatkhu Makkah, kaum muslimin semakin bertambah banyak dan kuat. Islam semakin meluas ke seluruh Jazirah Arab. Semua suku yang ada di Jazirah Arab saat itu telah menerima agama Islam. 

Pada saat itu Rasulullah SAW menyampaikan niatnya untuk melaksanakan ibadah haji. Mendengar niat Rasulullah tersebut banyak kaum muslimin yang ingin bergabung dengan beliau. Pada tanggal 25 Dzulkaidah tahun 10 H, Rasulullah bersama lebih dari 90.000 kaum muslimin berangkat menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. 

Ketika dalam perjalanan kaum muslimin semakin bertambah. Menurut riwayat jumlah mereka hingga mencapai 124.000 orang. Ada yang berjalan kaki dan ada pula yang mengendarai unta.

Pada hari tarwiyah (menyediakan air), tanggal 8 Zulhijah, Nabi pergi ke Mina, keesokan subuhnya is berangkat lagi menuju Gunung Arafah. Kaum muslimin mengikutinya sambil mengucapkan talbiyah (Labbaika Allahumma Labaik) dan takbir.

Nabi SAW berhenti di Namira (Sebuah desa di sebelah timer Arafah) untuk berkemah. Setelah matahari tergelincir, Nabi SAW berangkat menuju Wadi’ di wilayah Uran. Di tempat inilah Nabi Saw menyampaikan khutbahnya yang sangat bersejarah. 

Berikut isi Khutbah Nabi Muhammad SAW ketika Haji Wada:

Setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Allah SWT Nabi Saw mengucapkan khutbahnya dengan diselingi jeda pada setiap kalimat.

Hai manusia, dengarkanlah apa yang akan kukatakan. Mungkin setelah tahun ini aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selama-lamanya.

Hai manusia, sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci, sebagaimana sucinya hari dan bulan sekarang ini di negeri kalian ini.
Hai manusia, sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah ini. Aku tinggalkan dua pusaka untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan pernah tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu, dirikanlah sholat, bayarlah zakat, berpuasalah pada bulan Ramadan, pasti kamu akan selamat. Tunaikanlah ibadah haji dan taatilah pemimpi kalian, niscaya kalian akan masuk surga.

Rasulullah SAW juga berpesan kaum muslimin agar tidak berlaku kasar terhadap wanita, tidak menuntut balas terhadap kekejaman zaman jahiliyah, tidak mengambil keuntungan dari uang yang dipinjamkan, tidak murtad, dan tidak mengambil harta orang Islam dengan tidak benar.

Pada saat itu Allah SAWT menurunkan Surah al-Maidah ayat 3 sebagai wahyu terakhir. Diriwayatkan ayat tersebut turun di Arafah tanggal 9 Zulhijjah 10 Hijriah, hari Jumat sesudah asar. 

Allah SWT berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ 

Artinya: Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Maidah: 3).

Ketika mendengar ayat tersebut banyak orang yang bergembira, tetapi ada juga yang justru menangis sedih, termasuk Abu Bakar. Abu Bakar beranggapan bahwa wahyu terakhir itu pertanda tugas Rasulullah telah usai dan beliau akan kembali kepada Allah, yang artinya kaum muslimin akan ditinggal oleh Rasulullah untuk selama-lamanya.

Selesai berkhutbah, Bilal diminta untuk mengumandangkan azan dan iqamah. Rasulullah menjadi imam sholat Dzuhur. Kemudian Bilal diminta mengumandangkan iqamah lagi untuk melaksanakan sholat Ashar.

Dua bulan setelah menunaikan haji Wada, Nabi Muhammad SAW menderita demam. Nabi Saw tetap memimpin shalat berjamaah walaupun kondisi badannya lemah. Ketika badannya sangat lemah, sekitar tiga hari menjelang wafatnya, Nabi Saw tidak bisa mengimami shalat berjamaah.

Nabi Saw menunjuk Abu Bakar sebagai penggantinya menjadi Imam shalat. Semakin hari tenaganaya terus menurun. dan pada hari Senin 12 Rabiul Awal 11 8/8 Juni 632 M Nabi Muhammad SAW wafat di rumah istrinya, Siti Aisyah.

Wallahu A'lam

Editor : Kastolani Marzuki

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda