Mitos Menikah di Bulan Muharram Bisa Datangkan Petaka, Begini Pandangan Islam

Rilo Pambudi · Kamis, 21 Juli 2022 - 16:28:00 WIB
Mitos Menikah di Bulan Muharram Bisa Datangkan Petaka, Begini Pandangan Islam
Mitos Menikah di Bulan Muharram Bisa Datangkan Petaka (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Sebagian masyarakat mungkin masih meyakini mitos bahwa tidak boleh menikah di bulan Muharram. Bulan Muharram atau Suro sering diidentikkan dengan kesan yang sakral.


Tidak dipungkiri, bulan Muharram memang menjadi yang termasuk satu dari empat bulan haram (mulia) serta bulan suci selain Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Keistimewaan bulan Muharram telah jelas disampaikan melalui Al Quran surah At Taubah ayat 36:


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ


"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.


Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." 

Namun saking sakral dan sucinya bulan Muharram, tidak sedikit masyarakat yang menganggap tidak boleh dilangsungkan pernikahan pada bulan ini.  

Pada masyarakat tertentu, menikah di bulan Muharram dianggap dapat mendatangkan petaka. Mirisnya, hal itu telah berkembang menjadi kebiasaan yang diturunkan pada kelompok masyarakat tertentu.


Lantas, bagaimana mitos dilarang menikah di bulan Muharram itu dalam pandangan Islam? Berikut adalah penjelasan yang dilansir iNews.id dari NU Jatim, Kamis (21/7/2022).


Boleh Menikah di Bulan Muharram?


Pada dasarnya, menikah di bulan Muharram bukanlah sesuatu yang diharamkan. Menikah merupakan sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan. 

Dasar diperintahkannya menikah itu terdapat dalam Al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama.


وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ


"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya), Maha Mengetahui," (QS. An Nur:32)


Islam menganjurkan seorang muslim untuk segera menikah pernikahan apabila mereka telah mempu secara mental dan material. Hal itu sebagaimana dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda: 

“Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu terhadap biaya, maka menikahlah. Sungguh menikah itu lebih menentramkan mata dan lebih menjaga kelamin. Maka apabila tidak mampu, berpuasalah karena puasa bisa menjadi tameng”. (Imam Taqiyuddin Abi Bakr bin bin Muhammad al-Husaini asy-Syafi'i, Kifayah al-Akhyar, Surabaya: Dar al-Jawahir, t. th, juz 2, halaman: 30). 


Terkait hal tersebut, Islam tidak mengkhususkan waktu, tanggal, hari dan bulan pernikahan yang baik. Namun umat Muslim memang dapat mengikuti kebiasaan masyarakat setempat untuk tidak melaksanakan pernikahan di bulan tertentu.  

Dengan catatan, umat muslim dilarang memiliki kepercayaan atau keyakinan bahwa bulan Muharram dapat mendatangkan malapetaka. 

Kepercayaan terhadap hal demikian dinilai fasik dan tidak memiliki pelajaran yang jelas. Ibnu al-Firkah menyebutkan: 

"Jika terdapat seorang  ahli nujum berkata serta meyakini semuanya itu adalah pengaruh dari Allah, Allah-lah yang membuat kebiasaan terhadap anggapan sesungguhnya hal itu akan terjadi demikian ketika demikian. Maka hal itu tidak masalah. 

Lalu, dari mana kritikan itu datang, muncul atas seseorang yang percaya terhadap pengaruh bintang dan pengaruh makhluk. Mereka percaya jika ilmu bintang itu dapat mempengaruhi nasib baik dan buruk pernikahan". (Sayyid Abdurrahman al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut: Dar al-Fikr, 1994 halaman: 337).

Editor : Komaruddin Bagja

Halaman : 1 2

Follow Berita iNews di Google News

Bagikan Artikel:




Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda