Hikmah

Naskah Khutbah Jumat: Mensyukuri Nikmat Hujan

Kastolani · Jumat, 29 Januari 2021 - 04:31:00 WIB
Naskah Khutbah Jumat: Mensyukuri Nikmat Hujan
Wilayah Jabodetabek berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan sampai lebat pada Senin (22/6/2020)

Selain itu, juga harus bersyukur karena hujan adalah berkah. Dalam al-Quran, Allah menyebut hujan sebagai sesuatu yang diberkahi,

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

“Kami turunkan dari langit air yang berkah (banyak manfaatnya) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” (QS. Qaf: 9)

Selain anugerah, berkah, lagi penuh manfaat, secara ilmiah hujan menunjukkan ayat-ayat keesaran llah SWT. Hujan memiliki  fakta yang sangat menarik yaitu

Kecepatan air hujan saat turun ke Bumi rata-rata memiliki kecepatan sebesar 8–10 km/jam. Untuk kecepatan maksimalnya mencapai 22 mil per jam atau sekitar 35 km/jam.

Pada saat berada di atas, komponen hujan masih dalam bentuk es atau kristal. Namun, setelah turun ke Bumi berubah bentuk menjadi titik-titik air.

Diameter setiap tetesan air hujan memiliki variasi ukuran antara 0,02–0,031 inci. Setiap detik terdapat kurang lebih 16 juta ton air yang menguap dari permukaan Bumi untuk bahan hujan. Jumlah tersebut akan turun lagi ke Bumi dalam bentuk air hujan setiap detiknya dengan volume yang sama. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505×1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang. Proses ini menujukan bagaimana alam melakukan keseimbangan.

Bentuk air hujan akan berubah hingga ratusan kali per detik, biasanya terlihat hampir bulat. Jika semakin besar, maka bentuk air hujan akan menjadi semakin ceper.

Jamaah Jumat rohimakumulluh

Sebagai bentuk rasa syukur, maka kita semua harus mengungkapkannya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Setidaknya ada 5 hal yang harus kita sikapi ketika turun hujan.

Ingat azab dan berlindung kepada Allah. Ketika hujan turun dengan didahului mendung apalagi diiringi angina kencang dan petir maka kita harus ingat akan azab Allah sekaligus minta perlindungan kepadaNya. Aisyah radhiyallahu ’anha berkata:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَا أَدْرِى لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ ( فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ ) »

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam apabila melihat mendung di langit, beliau beranjak ke depan, ke belakang atau beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajah beliau. Apabila hujan turun, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam mulai menenangkan hatinya. ’Aisyah sudah memaklumi jika beliau melakukan seperti itu. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallammengatakan, ”Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang terjadi (pada Kaum ’Aad) sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), ”Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.” (QS. Al Ahqaf : 24).

Editor : Kastolani Marzuki