JAKARTA, iNews.id - Teks khutbah Jumat 31 Juli 2026 bertepatan minggu ke-3 Bulan Safar 1448 H berikut ini bisa menjadi referesi bagi khatib. Naskah khutbah kali ini mengangkat tema memperbanyak sabar di Bulan Safar.
Bulan Safar kerap kali diidentikkan dengan kesialan dan mitos-mitos yang tak berdasar. Namun dalam pandangan Islam, bulan ini justru menjadi momentum untuk memperkuat iman dan memperbanyak kesabaran.
Teks Khutbah Jumat 17 Juli 2026 tentang Bulan Safar Bukan Bulan Sial
Di bulan inilah Nabi Muhammad SAW menapaki jejak hijrah, sebuah perjalanan suci yang sarat ujian, tantangan, sekaligus pelajaran tentang keteguhan dan tawakal.
Dalam khutbah Jumat ini, umat Islam perlu kembali meneladani kesabaran Rasulullah SAW, dari menahan amarah, menerima takdir dengan ridha, hingga mampu bersyukur dalam kesulitan. Sebuah ajakan reflektif di tengah zaman yang penuh ujian dan kegelisahan.
Doa Awal Bulan Safar Lengkap Teks Arab, Latin dan Artinya untuk Tolak Bala
Berikut teks khutbah Jumat Bulan Safar minggu ke-3 singkat penuh hikmah dilansir dari laman nubanyumas.
Teks Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Bulan Safar Minggu ke-3
Khutbah I
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَن يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَن يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ , اَللّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِه وِأَصْحَابِه وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلى يَوْمِ الدّيْن. أما بعدُ, فيا عِبادَ الله أُوْصِيْكُمْ ونَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فقد فاز المتقون , قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ : وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَۚ وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُAcara Liburan & Musiman
Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,
Hari ini kita memasuki pekan ketiga bulan Safar, bulan penting dalam sejarah kenabian yang ditandai dengan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah di akhir bulan ini. Hijrah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual penuh ujian dan kesabaran. Setelah berdakwah terbuka, Nabi dan pengikutnya menghadapi ancaman dari kaum Quraisy, sehingga hijrah menjadi jalan satu-satunya untuk mencari tempat aman agar Islam berkembang dengan baik.
Dalam proses hijrah, kesabaran menjadi kunci utama keberhasilan Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi berbagai risiko dan tantangan. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa kesabaran bukan hanya menahan amarah atau keluhan, melainkan keteguhan hati dan kepercayaan penuh pada janji Allah SWT, terutama saat diuji dalam hidup.
Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,
Allah Ta’ala telah mengatur beragam tingkat kesabaran yang sebaiknya kita resapi dalam menjalani hidup, terutama pada masa-masa ketika kita menghadapi berbagai ujian. Di antara tingkatan kesabaran tersebut adalah:Astronomi
Pertama, saat seseorang merasa marah kepada takdir Allah. Seringkali manusia, ketika diuji, mengeluh, bergumam, bahkan mencela ketentuan Allah. Padahal, marah kepada takdir berarti marah kepada Allah sendiri. Allah SWT berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ
ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Artinya: Di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata..” (QS. Al-Hajj: 11)
Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak hanya taat saat baik, tetapi juga kuat dan sabar menghadapi ujian. Sikap mudah goyah dan mengeluh justru merugikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, perkuat hati dengan kesabaran dan iman, bukan kemarahan atau keluhan. Mengeluh, baik lisan maupun hati, bisa membawa dosa bahkan syirik, dan marah adalah sikap terendah dalam ujian.