Lanjutan Khutbah I
Kedua, sabar yang merupakan tingkatan minimal yang wajib dimiliki setiap Mukmin. Memang, sabar itu pahit rasanya, sebagaimana ungkapan seorang penyair:
ٱلصَّبْرُ مِثْلُ ٱسْمِهِ مَرَّ مَذَاقُهُ وَلَكِنْ عَـٰقِبَهُۥ أَحْلَىٰ مِنَ ٱلْعَسَلِIslam
Artinya: “Sabar itu pahit rasanya, tapi hasilnya lebih manis dari madu.”
Meskipun demikian, sabar bukan berarti menyukai musibah, melainkan menahan diri dari marah dan tetap teguh dalam iman. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunjukkan betapa besar kesabaran mereka saat hijrah—menempuh perjalanan panjang penuh bahaya demi mempertahankan dan menyebarkan agama Allah.
Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah,
Ketiga, ridha, merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari sabar. Ridha adalah menerima setiap ketetapan Allah, baik nikmat maupun musibah, dengan hati yang lapang dan iman yang kuat kepada qadha dan qadar. Orang yang ridha tidak membedakan antara ujian atau kemudahan karena keduanya merupakan ketentuan Allah. Inilah kedamaian hati yang sejati, yang membedakan sabar biasa dengan kesabaran hakiki.
Keempat, syukur adalah tingkatan tertinggi dalam menghadapi ujian. Syukur berarti mampu bersyukur bahkan di tengah musibah, karena orang beriman melihat ujian sebagai penghapus dosa dan jalan meraih pahala.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, atau tusukan duri yang menimpa seorang Muslim kecuali akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mari kita gunakan bulan Safar ini sebagai waktu untuk memperdalam kesabaran kita — mulai dari menahan amarah, meraih ridha, hingga mampu bersyukur atas setiap ketetapan Allah. Dengan begitu, tidak hanya keberkahan yang kita raih, tetapi juga pertolongan-Nya senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ