Lanjutan Khutbah I
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Adapun pengertian takabur adalah seperti yang ditegaskan oleh Nabi SAW. Beliau bersabda:
الكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR Muslim)
Berdasarkan hadis ini, dipahami bahwa orang yang takabur ada dua macam:
Pertama, seseorang yang menolak kebenaran yang disampaikan orang lain, padahal ia tahu bahwa kebenaran ada pada orang tersebut.
Ia menolaknya karena orang yang menyampaikan kebenaran itu lebih muda darinya atau lebih rendah kedudukannya, sehingga ia merasa berat untuk mengikuti kebenaran itu. Padahal, ketahuilah, bahwa Fir’aun tidaklah binasa kecuali karena sifat takaburnya.
Fir’aun telah melihat sekian banyak mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam, namun ia tidak beriman kepada Nabi Musa. Bahkan Haman, perdana menteri Fir’aun, ketika itu berkata kepada Fir’aun: “Jika engkau beriman kepada Musa, maka engkau akan kembali menjadi hamba yang menyembah, padahal selama ini engkau sudah menjadi tuhan yang disembah.”
Demikian pula Bani Israel, yang mana diutus kepada mereka Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah mereka melihat mukjizat Nabi Isa, tidak ada yang membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabur. Mereka selalu mengatakan bahwa jika mereka beriman, maka akan lenyaplah kehormatan dan kekuasaan mereka.
Demikian pula Abu Lahab dan tokoh-tokoh kafir Quraisy. Setelah mereka melihat mukjizat Alquran dan mengakui bahwa Alquran tidak seperti puisi dan prosa yang mereka kenal, tidak ada yang membinasakan mereka dan membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabur.
Kedua, jenis orang takabur yang menganggap dirinya memiliki keistimewaan yang melebihi orang lain. Ia melihat dirinya dengan pandangan kesempurnaan dan penuh kebaikan. Ia lupa bahwa itu semua sejatinya adalah pemberian Allah kepadanya.
Dengan kelebihan itu, ia lalu bersikap congkak kepada sesama hamba Allah dan merendahkan mereka, karena menurutnya, ia jauh lebih tinggi martabatnya, lebih banyak hartanya atau lebih tampan daripada mereka, yang jelas merasa lebih baik daripada yang lainnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Merendahkan orang lain tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya dan penguasa saja. Sebaliknya, bisa juga dilakukan oleh siapa pun.
Seorang suami bisa saja menganggap istrinya tidak memahami suatu persoalan, sehingga dia merendahkan istrinya dalam hatinya dan berperilaku sombong kepadanya tanpa ia sadari.
Seorang ayah bisa saja menganggap anaknya lebih rendah darinya dalam pengetahuan dan pengalaman, sehingga ia merendahkan anaknya dalam hatinya tanpa ia sadari.
Seorang guru bisa saja menganggap murid-muridnya berada di bawahnya dalam hal ilmu dan pemahaman, sehingga ia merendahkan mereka dalam hatinya tanpa ia sadari.