Cegah Obesitas, Perhatikan Batas Aman Anak Konsumsi Gula
JAKARTA, iNews.id - Obesitas pada anak menjadi ancaman kesehatan yang semakin serius di Indonesia. Fenomena penumpukan lemak berlebih kini tidak lagi sekadar persoalan penampilan, tetapi berpotensi memicu berbagai penyakit tidak menular (PTM) sejak usia dini.
Perubahan gaya hidup yang semakin minim aktivitas fisik, tingginya konsumsi makanan cepat saji, serta maraknya minuman berpemanis menjadi faktor utama meningkatnya kasus obesitas pada anak. Jika kondisi ini terus dibiarkan, risiko penyakit kronis di masa depan akan semakin besar.
Dokter Spesialis Anak, dr Reza Fahlevi, mengingatkan konsumsi gula tambahan pada anak harus dibatasi meski gula tetap dibutuhkan sebagai sumber energi. Hal tersebut dia sampaikan dalam video edukasi bersama Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono yang diunggah di akun Instagram Wamenkes.
"Nah, jadi memang gula itu penting ya untuk pertumbuhan anak. Tapi tentunya jumlah konsumsinya harus dibatasi. Kenapa? Karena kalau kita lihat sekarang, tren banyak anak-anak kita yang sudah mulai menjadi obesitas," katanya, dikutip Sabtu (25/7/2026).
Menurut dr Reza, obesitas pada anak dapat memicu resistensi insulin yang berujung pada diabetes melitus (DM). Selain itu, dampak jangka panjangnya juga dapat memengaruhi kesehatan ginjal.
"Kalau obesitas juga bisa risiko resistensi insulin ya, bisa juga mencetuskan DM pada anak. Selain itu, dampak jangka panjangnya juga bisa ke masalah ginjal, kalau memang konsumsi dalam jangka waktu yang panjang menyebabkan obesitas, hipertensi nanti kemudian hari komplikasinya, bisa juga salah satunya membebani fungsi ginjal yang kerja berlebihan akhirnya menyebabkan penyakit ginjal kronik pada anak," ujarnya.
Dia menjelaskan batas konsumsi gula tambahan berbeda pada setiap kelompok usia. Bahkan, anak di bawah usia dua tahun tidak dianjurkan mengonsumsi gula tambahan sama sekali.
"Pada anak tentunya tergantung kelompok usia. Di bawah usia dua tahun tidak direkomendasikan untuk pemberian gula tambahan. Usia dua tahun sampai enam tahun, itu maksimal hanya empat sendok teh saja per hari atau sekitar 19 gram," ucapnya.
Menurutnya, tingginya paparan makanan dan minuman tinggi gula membuat peran keluarga menjadi sangat penting dalam membentuk pola makan sehat anak sejak dini. Orang tua perlu mengawasi asupan harian sekaligus membatasi konsumsi minuman berpemanis dan makanan tinggi gula.
"Iya, jadi pertama dimulai dari keluarga tentunya. Jangan sampai anak terlalu sering mengonsumsi makanan ataupun minuman yang tinggi gula," katanya.
dr Reza menilai edukasi gizi kepada orang tua menjadi langkah penting untuk menekan angka obesitas pada anak. Dengan menerapkan pola makan seimbang dan membatasi gula tambahan sesuai rekomendasi, risiko diabetes, hipertensi, hingga penyakit ginjal kronis pada anak dapat diminimalkan sejak usia dini.
Editor: Dani M Dahwilani