Cerita Chua Kotak Melayat ke Rumah Duka Vidi Aldiano, Banjir Air Mata
Di lantai bawah, Chua bertemu dengan adik Vidi, Vadi. Dia menyambut semua tamu yang datang, tanpa terkecuali.
"Tatapan matanya hangat, senyum matanya tulus. Kepada kami, saya, Tantri, dan Arda, dia mengucapkan terima kasih satu per satu, lalu mempersilahkan kami naik ke lantai atas. Cara bicaranya seperti kepada teman yang sudah lama dikenal. Seramah itu," tutur Chua.
"Lalu kami naik tangga dan bertemu dengan istri almarhum, Sheila Dara. Kami pun menyampaikan belasungkawa. Tatapannya juga sangat hangat saat menyambut salaman tangan kami, dengan senyum manisnya. Ia terlihat begitu tenang dan ramah," tambahnya.
Dia melanjutkan, "Jujur, malah kami yang hampir menangis karena berduka. Melihat Sheila setenang dan sekuat itu, membuat kami ikut berusaha tegar. Masa iya kami yang malah menangis, ya kan?".
Setelah itu, Chua, Tantri, dan Arda, dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu, ada jenazah Vidi Aldiano yang disampingnya duduk ibunda almarhum yang bergantian menyalami para tamu.
Tatapan ibunda Vidi, kata Chua, juga hangat. Sikapnya benar-benar seperti seorang ibu yang mengayomi anak-anaknya.
Ucapan terima kasih terus terucap dari mulutnya sambil tersenyum. Senyumannya sangat cantik dan manis. Saat bersalaman, tangannya juga mengusap-usap tangan dan pundak para tamu dengan lembut.