Desainer Indonesia Sukses Unjuk Koleksi di Amsterdam Modest Fashion Week 2019

Tuty Ocktaviany ยท Minggu, 22 Desember 2019 - 12:05 WIB
Desainer Indonesia Sukses Unjuk Koleksi di Amsterdam Modest Fashion Week 2019

Desainer dan brand Indonesia sukses memamerkan karya di ajang Amsterdam Modest Fashion Week 2019. (Foto: iNews.id/IFC)

JAKARTA, iNews.id – Talenta desainer Indonesia semakin diakui masyarakat mancanegara dengan keikutsertaan mereka di ajang fashion tingkat dunia. Salah satunya, ajang Amsterdam Modest Fashion Week 2019.

Desainer yang tergabung dalam Modest Fashion Founder Fund (ModestFFFund) belum lama ini sukses sukses mengikuti perhelatan Amsterdam Modest Fashion Week 2019 di Passenger Terminal Amsterdam, Belanda pada 14-16 Desember 2019. Mereka tampil bersama-sama dengan desainer atau brand, influencer dari 20 negara dalam perhelatan modest fashion resmi dunia ini.

ModestFFFund merupakan program akselerasi bagi desainer atau brand modest fashion yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan #Markamarie untuk menciptakan desainer atau brand yang unggul, baik dari sisi kreasi maupun bisnis. ModestFFFund diharapkan bisa menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekosistem modest fashion dan memaksimalkan potensi Indonesia untuk menjadi kiblat modest fashion dunia.

Modest Fashion selama ini menduduki peringkat kedua dalam nilai kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat fashion sebagai subsektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar 18,01 persen atau setara dengan Rp166 triliun pada 2016.

Program yang telah berjalan sejak Mei 2019 ini, akhirnya memilih Amsterdam Modest Fashion Week 2019 sebagai wadah desainer atau brand Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional. Tentunya ini akan menjadi hal yang tak mudah dilalui, mengingat selama ini pasar global banyak didominasi dengan busana fashion dari negara tertentu seperti Turki.

Dengan bantuan #Markamarie, ModestFFFund pun menyeleksi 400 brand atau desainer modest fashion Indonesia yang berpotensi besar untuk bisa menghadapi pasar global. Dari 400 desainer atau brand tersebut, ModestFFFund akhirnya memilih empat desainer atau brand terbaik untuk mengikuti ajang fashion kelas dunia tersebut.

Empat desainer atau brand itu di antaranya Hannie Hananto, Luluk Marla, Neera Alatas, dan WAD Studio. Pemilihan keempat desainer ini melibatkan juri dari Dubai, Turki dan Belanda.

“Keempat desainer terpilih ini mewakili keragaman gaya dunia modest fashion Indonesia. Hannie Hananto mewakili fun pop art, WAD Studio mewakili gaya edgy casual, Neera eveningwear dengan detail craft, dan Luluk Marla yang bergaya couture,” tutur Franka Soeria, Co Founder Modest Fashion Weeks dalam rilis yang diterima iNews.id, Minggu (22/12/2019).

Founder #Markamarie ini menambahkan, “Dalam satu eksklusif show, penonton diberikan suguhan kreatif yang luar biasa dan memukau. Semoga dengan ini, mereka paham kalau Indonesia bisa berbicara tentang keragaman pilihan. Indonesia adalah pusatnya kreativitas,”

Keberagaman menjadi strategi yang dipilih untuk event ini. Ciri khas dalam mendesain itu pun bisa dilihat dari masing-masing desainer atau brand yang berhasil terpilih. Dimulai dari Hannie Hananto yang sudah berkecimplung di industri modest fashion sejak 2003. Selama ini, Hannie Hananto telah mewarnai busana modest Indonesia dengan gaya nyentrik dalam setiap busana yang dihadirkannya. Oleh karena itu, Hannie dinilai bisa mewakili genre pop Indonesia untuk bersaing di pasar global.

“Saya menghadirkan koleksi yang beda. Di Eropa, warna yang saya pilih lebih calm. Karena orang Eropa suka warna monokrom. Jadi, saya menahan diri untuk tidak memakai warna yang biasanya,” kata Hannie.

Di ajang ini, Hannie menghadirkan koleksi dengan tema Anggrek. “Indonesia pemilik bunga Anggrek terbesar di Asia, itu yang menjadi inspirasi saya,” ucap Hannie.

Selain Hannie, Neera Alatas juga memamerkan koleksi terbaiknya di ajang Amsterdam Modest Fashion Week. Dengan mengambil tema Embun, desainer yang sudah berkarya sejak 2005 ini, menghadirkan busana couture dengan gaya evening dress.

“Saya ingin menunjukkan kalau dress itu enggak hanya abaya, ada gaya lain yang bisa dipakai ke pesta. Saya mengusung evening dress dengan nuansa feminine romantic yang dihiasi dengan warna-warna pastel,” kata Neela.

Hannie dan Neela memang terbilang sudah berpengalaman di dunia modest fashion Tanah Air. Namun, ModestFFFund tetap ingin memberi kesempatan bagi desainer atau brand baru untuk menjajal pasar global, yakni dengan memilih WAD Studio dan Lukuk Marla.

Dalam kesempatan ini, WAD Studio menghadirkan busana modest ready-to wear dengan gaya edgy.

“Kami membawa lima looks outer wear, tiga top, tiga celana, dan lima sepatu. Kami senang bisa mendapat kesempatan ini dan bisa bersaing di pasar global,” jelas WAD Studio.

Sementara itu, Luluk Marla yang selama ini memiliki gaya feature glam membawakan cita rasa Nusantara dengan mengemas kekayaan flora dan fauna Indonesia dalam busana.

“Saya membawakan evening dress, tapi satu busana itu batik. Saya membawakan evening dress dengan gaya simpel saja. Setelah saya kaji, banyak yang membutuhkan evening dress dengan gaya simpel,” kata Lukuk Marla.

Selain fashion show, empat desainer ini juga berkesempatan untuk experience langsung menjual produk di pasar Eropa di Amsterdam Modest Fashion Week. Kehadiran mereka disambut baik para pencinta modest fashion seluruh dunia yang hadir di perhelatan itu.

“Show ModestFFFund sangatlah kreatif. Mereka menghadirkan ide segar dalam dunia modest fashion. Sangat menarik,” ujar Kubra, salah satu pengunjung.

“Semoga ajang ini menjadi pertemuan pertama yang bisa membuka jalan bagi desainer ModestFFFund untuk unjuk gigi secara tepat di industry modest fashion dunia. Banyak buyer yang tertarik dengan produk mereka, semoga bisa terealisasi,” kata Franka Soeria.

Seperti diketahui, Amsterdam Modest Fashion Week merupakan rangkaian perjalanan dari serial Modest Fashion Week resmi yang didirikan oleh Franka Soeria dan Ozlem Sahin dari Think Fashion. Modest Fashion Week diadakan pertama kali pada 2016 di Istanbul dan kemudian diadakan di London (April 2017), Dubai (Desember 2018), Jakarta (Juli 2018), Dubai (Maret 2019) dan Amsterdam (Desember 2019).


Editor : Tuty Ocktaviany