Desta Kena Musibah, Mata Kirinya Nyaris Buta gegara Terhantam Bola Padel
JAKARTA, iNews.id - Artis Desta Mahendra mengalami insiden yang nyaris membuatnya kehilangan penglihatan saat mengikuti turnamen padel di Jakarta Selatan. Mata kiri Desta terkena hantaman bola.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (10/7/2026) saat Desta berpasangan dengan atlet padel Panji Untung Setiawan dalam pertandingan melawan Giorgio Soemarno dan Jose Antonio Arcos. Akibat benturan keras tersebut, Desta langsung terjatuh di lapangan sambil memegangi wajahnya sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans.
Melalui akun Instagram pribadinya, Desta kemudian membagikan kronologi lengkap insiden yang dialaminya. Dia menjelaskan, reli bermula ketika dirinya melakukan servis yang berhasil dikembalikan oleh lawan. Bola kemudian diterima Panji dengan pukulan backhand volley.
Setelah lawan mengembalikan bola dengan teknik lob, Panji melompat untuk melepaskan pukulan vibora. Namun, bola justru mengarah ke wajah Desta dan menghantam mata kirinya dari jarak dekat.
Meski banyak yang mengira insiden itu merupakan kesalahan Panji, Desta justru menegaskan sebaliknya. Dia mengaku kecelakaan tersebut murni terjadi karena kelalaiannya sendiri saat berada di depan net.
"Secara permainan ini pure kesalahan saya. Pemain di posisi depan harusnya cukup melihat sedikit arah bola saat di-lob. Setelah itu langsung lihat lagi ke arah lawan, atau posisi menunduk atau bahkan jongkok," tulis Desta, dikutip Senin (13/7/2026).
Dia mengaku terlalu lama memperhatikan arah bola karena penasaran apakah bola akan memantul terlebih dahulu atau langsung dipukul kembali oleh Panji. Akibatnya, dia terlambat mengantisipasi datangnya bola.
"Saya terlalu kepo dan lama ngeliatin bola karena saya menunggu apakah bola akan mantul dulu, mau tahu Panji akan lob lagi setelah mantul atau bajada, untuk mengatur posisi saya selanjutnya. Jadi sekali lagi ini bukan salah Panji. Tapi pure kesalahan saya sendiri," lanjutnya.
Benturan tersebut memberikan dampak yang cukup serius. Desta mengungkapkan sesaat setelah bola mengenai mata kirinya, penglihatannya langsung berubah menjadi abu-abu hingga tidak dapat melihat sama sekali.
Dia kemudian mendapat pertolongan pertama di lapangan sebelum dirujuk ke rumah sakit khusus mata untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan retina, kornea, serta saraf mata Desta dalam kondisi baik. Namun, benturan keras menyebabkan trauma pada mata disertai pendarahan yang cukup luas hingga mencapai area lensa.
"Pendarahan cukup lebar sampai di lensa mata. Sudah ditangani dokter spesialis mata. Cukup parah tapi tidak sampai berbahaya," ungkap Desta.
Untuk mempercepat proses pemulihan, dokter memasang bandage contact lens atau lensa kontak pelindung dan memberikan antibiotik tetes mata. Beruntung, beberapa jam setelah mendapat penanganan medis, kondisi penglihatannya mulai menunjukkan perkembangan positif meski masih sedikit buram.
Dokter memperkirakan fungsi penglihatan Desta akan kembali normal seiring membaiknya kondisi pendarahan di mata kirinya.
Dalam unggahan yang sama, Desta juga mengungkapkan reaksi Panji Untung Setiawan usai kejadian tersebut. Menurutnya, Panji sangat terpukul karena merasa menjadi penyebab insiden itu.
"@panjiusetiawan setelah itu sampai terdiam, sampai menangis karena khawatir dan merasa bersalah," tulis Desta.
Karena itu, dia meminta warganet untuk tidak menyalahkan rekan setimnya tersebut. Desta menegaskan bahwa kecelakaan dalam olahraga dapat terjadi kapan saja dan menjadi pelajaran berharga bagi semua pemain padel agar selalu waspada saat berada di lapangan.
Di akhir keterangannya, Desta menyampaikan rasa syukur karena kondisinya terus membaik. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga, rekan-rekan, tenaga medis, serta semua pihak yang telah memberikan doa dan dukungan selama proses pemulihannya.
"Kejadian tak terduga bisa terjadi kapan pun dalam olahraga. Jadikan ini pengalaman dan belajar untuk lebih baik ke depan supaya bisa meminimalisir hal-hal seperti ini. Stay strong," kata Desta.
Editor: Muhammad Sukardi