Diputusin Gara-Gara Rambut Gimbal, Azia Riza Balas Pakai Prank
JAKARTA, iNews.id - Di episode HALO DEK kali ini, Azia Riza kembali hadir dengan konsep yang absurd tapi justru bikin penasaran sejak detik pertama. Bermodal panggilan ala Ome TV dan gaya ngobrol santai khasnya, Azia membuka obrolan dengan orang-orang random yang sama sekali tidak tahu akan dibawa ke arah mana. Dari salah sebut nama sampai candaan receh, suasana langsung cair dan mengundang tawa.
Prank pun dimulai saat Azia mengungkap tujuan utamanya bermain Ome, yaitu mencari pinjaman duit seadanya. Bukan untuk hal penting, melainkan demi membeli kado untuk mantan yang telah memutuskannya. Alasan putusnya pun terdengar konyol sekaligus nyesek, karena Azia mengaku diputuskan hanya gara-gara rambut gimbalnya. Curhatan itu memancing berbagai reaksi, mulai dari simpati, pujian soal penampilan, sampai komentar jujur yang menyebut rambut tersebut justru terlihat keren.
Situasi makin tak terduga ketika Azia mulai mengaku sebagai bule Afrika. Logat campur-campur dan jawaban ngawur bikin lawan bicara bingung antara percaya dan curiga. Ada yang mengira Azia benar-benar orang asing yang sudah lama tinggal di Indonesia, ada juga yang langsung membongkar kebohongannya. Percakapan pun dipenuhi dialog absurd antara bahasa Indonesia dan Inggris yang terasa natural dan spontan.
Di tengah prank, obrolan berubah menjadi sesi curhat setengah serius. Lawan bicara mulai memberi nasihat soal hubungan, mempertanyakan alasan mengapa masih mau memberikan kado kepada mantan, hingga menyarankan untuk move on. Dari saran beliin skateboard sampai candaan soal hidup yang ribet, semua terlontar dengan jujur dan apa adanya, membuat momen prank terasa lebih hidup dan relate.
Menjelang akhir, Azia menutup interaksi dengan gaya khasnya yang penuh percaya diri dan humor. Ia mengajak penonton untuk ikut berkomentar, memberi ide prank baru, dan menikmati kekacauan kecil yang tercipta dari obrolan random tersebut. HALO DEK kembali membuktikan bahwa keseruan bukan hanya datang dari kejutannya, tapi dari interaksi sederhana yang berubah jadi hiburan tanpa skenario.
Editor: Dani M Dahwilani