Melihat Kasus Reynhard Sinaga, Begini Dampak Psikologis pada Korban Kekerasan Seksual

Siska Permata Sari ยท Jumat, 10 Januari 2020 - 20:41 WIB
Melihat Kasus Reynhard Sinaga, Begini Dampak Psikologis pada Korban Kekerasan Seksual

Korban kekerasan seksual banyak mengalami dampak psikologis. (Foto: Ilustrasi Inverse)

JAKARTA, iNews.id - Pria bernama Reynhard Sinaga belakangan ini menjadi perbincangan hangat di dunia nyata maupun dunia maya. Namanya menjadi headline di media-media massa Inggris dan Indonesia karena kasus perkosaan yang dia lakukan terhadap ratusan pria di Inggris.

Seperti yang kita tahu, perkosaan adalah salah satu bentuk kekerasan seksual, yang dapat menimpa siapa saja. Perlakuan tersebut memiliki dampak yang lebih jauh pada korban kekerasan seksual. Mulai dari fisik, psikologis hingga sosial.

"Dampak kekerasan seksual, sederhananya mencakup tiga aspek. Ada fisik, psikiatrik, dan sosial," kata Dokter Kejiwaan sekaligus Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi, dan Trauma Psikososial dr Gina Anindyajati, SpKJ, dalam seminar di IMERI FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020).

Dia mengatakan, dampak psikiatrik pada korban kekerasan seksual salah satunya adalah gangguan jiwa. "Mulai dari depresi, gangguan kepribadian, gangguan psikotik, dan gangguan panik. Kemudian tekanan psikologis, disosiasi, gejala gangguan stres pasca-trauma, dan kegelisahan,” katanya.

Bahkan, kata dia, korban kekerasan seksual dapat berperilaku menyakiti diri sendiri, pikiran bunuh diri atau dorongan untuk mengakhiri hidup, hingga penyalahgunaan narkoba serta alkohol.

"Kalau untuk dampak fisik, misalnya masalah-masalah somatik, kesehatan fisik yang lebih buruk, persepsi kesehatan fisik yang lebih buruk, jadi lebih sering mengunjungi dokter," ucap dr Gina.

Selain itu yang tidak kalah bahaya adalah penyakit kronis, nyeri kronis, komplikasi ginekologis dan perinatal, masalah seksual hingga risiko lebih besar tertular HIV dan infeksi menular seksual (IMS).

"Kemudian yang ketiga, dampak sosial bagi korban kekerasan seksual itu bisa sulit percaya pada orang lain, mengisolasi diri, hingga ketakutan untuk membina hubungan dekat dengan orang lain," ucapnya.


Editor : Tuty Ocktaviany