Mengenang Kembali Kisah Cinta BJ Habibie dan Hasri Ainun Besari

Siska Permata Sari ยท Rabu, 11 September 2019 - 18:40 WIB
Mengenang Kembali Kisah Cinta BJ Habibie dan Hasri Ainun Besari

BJ Habibie meninggal dunia pada Rabu (11/9/2019), pukul 18.05 WIB. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Cinta yang abadi, cinta yang tak lekang oleh waktu. Mungkin itulah sepenggal kalimat yang menggambarkan kisah kasih Bacharuddin Jusuf Habibie dan sang istri, Hasri Ainun Besari. Sebuah kisah cinta yang menginspirasi banyak orang karena ketulusan, serta kesetiaan yang mengiringi perjalanan cinta mereka berdua.

Baru saja Indonesia kehilangan putra terbaik. Presiden ke-3 RI BJ Habibie wafat, Rabu (11/9/2019), pukul 18.05 WIB.

Habibie berpulang dalam perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Mantan menteri riset dan teknologi ini meninggal dalam usia 83 tahun karena sakit.

Sosok Habibie mengingatkan akan kesetiaannya pada sang istri, Hasri Ainun Besari yang sudah lebih dahulu wafat. Kisah kasih mereka sangat indah.  Bermula dari masa-masa masih remaja, kisah-kisah saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), komunikasi yang terputus saat kuliah, hingga akhirnya menikah dan membina hubungan rumah tangga yang penuh dengan perjalanan tak selalu mulus.

Mari simak kisah perjalanan cinta Habibie-Ainun seperti dirangkum iNews.id, Rabu (11/9/2019).

Benih Cinta Semasa Remaja

Berdasarkan buku 'Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner', dikisahkan bahwa awal mula kisah cinta Habibie-Ainun dimulai ketika masa remaja, saat keduanya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namun, keduanya baru saling memperhatikan ketika sama-sama bersekolah di SMA Kristen Dago Bandung, Jawa Barat.

Di masa-masa remaja ini, keduanya sama-sama dikenal cerdas dan sering dijodohkan. Namun saat itu, Habibie belum merasa tertarik dengan Ainun. Walaupun demikian, dia sempat menggoda calon istrinya itu dengan menjulukinya 'Gula Merah'.

Putus Komunikasi dan Kembali Dipertemukan

Jodoh selalu dipertemukan, begitulah kata orang-orang. Ini berlaku bagi kisah cinta Habibie-Ainun yang kembali dipertemukan setelah keduanya bertahun-tahun tak bertemu lantaran Habibie melanjutkan kuliah dan bekerja di Jerman, sementara Ainun tetap di Indonesia dan berkuliah di Universitas Indonesia (UI).

Di sinilah Habibie merasa terkejut saat bertemu dengan Ainun, dan benih-benih cinta dimulai dari sini. Habibie kemudian menjuluki Ainun dengan sebutan 'Gula Pasir'.

Menjalin Asmara dan Menikah

Setelah sama-sama menyukai satu sama lain, keduanya pun menjalin tali asmara yang berlanjut ke jenjang pernikahan. Tepat pada 12 Mei 1962, Habibie menikahi Ainun di Rangga Malela, Bandung. Akad nikah Habibie dan Ainun digelar secara adat dan budaya Jawa, sedangkan resepsi pernikahan digelar keesokan harinya dengan adat dan budaya Gorontalo. Dari pernikahannya tersebut, Habibie dan Ainun dikaruniai dua putra, yakni Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Kesetiaan Ainun Dampingi BJ Habibie

Sebagaimana biduk rumah tangga, perjalanan Habibie-Ainun tidak selalu berjalan mulus. Cobaan dan tantangan dalam hubungan rumah tangga silih berganti. Apalagi saat BJ Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak 1978 dan diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia saat krisis moneter tahun 1998.

Namun, hal yang paling berat adalah masa ketika Ainun dinyatakan menderita kanker ovarium pada 2010. Istri Habibie tersebut sempat menjalani perawatan eksklusif di Jerman. Saat itu, Habibie pun selalu mendampingi sang istri, meskipun akhirnya pada Mei 2010, Ainun mengembuskan napas terakhirnya.

Cinta dan Puisi Habibie untuk Ainun

Setelah Ainun meninggal dunia, kasih Habibie tak pernah berhenti menyertai mendiang istrinya tersebut. Dia selalu rutin mengunjungi makam istrinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dia juga pernah menuliskan puisi untuk mendiang istrinya yang sangat mengharukan.

Berikut sebuah kutipan puisi dari Habibie untuk Ainun:

"Kita tetap manunggal, menyatu dan tak berbeda sepanjang masa
Ragamu di Taman Pahlawan bersama para Pahlawan Bangsa lainnya
Jiwa, roh, batin dan nuranimu telah menyatu denganku.

Di mana ada Ainun ada Habibie, di mana ada Habibie ada Ainun
Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan lagi sepanjang masa
Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun
Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan dan kehendak-Mu Allah.

Kami siram dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa dan budaya kami
Yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi sepanjang masa.

Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami
Perekat kami menyatu, menunggal jiwa, roh, batin dan nurani kami.

Di manapun dalam keadaan apapun kami tetap tak terpisahkan lagi
Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun.... sampai akhirat!"


Editor : Tuty Ocktaviany