Hari Batik Nasional

Oscar Lawalata Sedih Masih Banyak yang Pakai Batik Printing

Siska Permata Sari ยท Rabu, 02 Oktober 2019 - 21:33 WIB
Oscar Lawalata Sedih Masih Banyak yang Pakai Batik Printing

Oscar Lawalata. (Foto: iNews.id/Siska Permata Sari)

JAKARTA, iNews.id - Di Hari Batik Nasional ini, sebagian masyarakat Indonesia berlomba-lomba mengenakan busana dengan aksen batik, entah itu berupa kemeja, outer, atau bawahan seperti rok atau celana panjang. Tetapi di Hari Batik Nasional ini, desainer Tanah Air, Oscar Lawalata justru merasa sedih. Mengapa?

Kesedihan itu dia ungkapkan di acara pembukaan pameran 'I Am Indonesian The Future: Aku dan Kain' yang dihelat di Senayan City pada Rabu (2/10/2019), yang mana bertepatan dengan Hari Batik Nasional.

"Kalau batik aku terus terang sedih ya, karena batik itu banyak yang printing dan masyarakat masih belum banyak yang tahu bagaimana membedakan batik printing dan batik tulis. Jadi, itulah yang terjadi sekarang," kata Oscar Lawalata saat ditemui wartawan di Senayan City, Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Dia melihat sekarang ini, masih belum banyak yang dapat membedakan batik printing dan batik tulis. Sebab menurut Oscar, batik bukan tentang motif atau corak, tetapi proses membatik itu sendiri.

"Jadi sekarang ini, tiap Jumat para pegawai negeri atau perusahaan wajib mengenakan batik, tapi orang banyak yang membeli batik printing. Padahal kan program ini sebenarnya tujuannya untuk mendukung para pembatik," tutur dia.

Walaupun seperti yang diketahui bahwa harga batik tulis atau batik asli tergolong lebih mahal jika dibandingkan printing, dia mengungkapkan bahwa itu adalah sebuah apresiasi untuk para pembatik di Indonesia.

"Kadang harganya antara batik printing dengan batik cap itu tidak jauh berbeda. Jadi daripada buang uang untuk beli batik printing, lebih baik pakai batik cap," kata dia.

Dia juga berharap, di Hari Batik Nasional ini, ke depannya masyarakat Indonesia lebih peka dan dapat membedakan mana batik asli dengan Batik printing. Sebab lagi-lagi, batik tak sekadar pakaian atau kain, tetapi juga memiliki nilai-nilai filosofi hidup dan doa para pembatiknya.

Editor : Tuty Ocktaviany