Perjalanan Karier Nurnaningsih, Bom Seks Pertama Dunia Perfilman Indonesia
JAKARTA, iNews.id – Generasi sekarang mungkin tak tahu siapa itu Nurnaningsih, namun pada era 1950-an namanya merupakan sinonim dari kata cantik dan seksi. Sering disebut sebagai bom seks pertama Indonesia, Nuraningsih adalah bintang besar sinema Indonesia pada era 1950-an hingga 1980-an.
Lahir di Surabaya pada 1928, Nurnaningsih yang memiliki bakat akting alami berinisiatif mendaftar ke Perfini, perusahaan film milik Usmar Ismail, dan debut pada tahun 1953 lewat film Krisis. Meski sempat berhenti sekolah ketika kelas satu SMA, bakat akting yang dia miliki berhasil membuat film Krisis sukses lantas sosoknya dipuja banyak lelaki.
Berkat film pertamanya ini, Nurnaningsih pun sempat mendapat penghargaan dari reklame biro Oriental dalam ajang pemilihan bintang film di majalah Varia pada Oktober 1954, mengutip dari video YouTube yang diunggah ke kanal Mesin Waktu, Rabu (8/9/2021).
Karier Nur pun berlanjut dengan film Harimau Tjampa pada tahun 1954 yang disutradarai oleh Djaduk Djajakusuma. Film ini pun berhasil memulai kontroversi dalam hidup Nur karena dalam perannya dia memiliki adegan setengah telanjang; menjadikannya aktor pribumi pertama yang berbuat demikian di dunia perfilman Indonesia.
“Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia,” ujarnya dikutip dari WikiWand.
Namun rupanya, penampilan setengah telanjang Nur di film Harimau Tjampa bukanlah kali terakhir masyarakat Indonesia melihat tubuh Nur tanpa dihalangi kain. Pada pertengahan tahun yang sama, foto-foto telanjang Nuraningsih beredar di pasar gelap dan dibandrol dengan harga Rp200 – Rp300 per-fotonya.
Menanggapi hal tersebut, Nur berkata bahwa foto-foto tersebut bukan gambar dirinya yang asli, melainkan potret kepalanya yang ditempel ke tubuh orang lain. Dulu ada teknik montase, yang menggabungkan foto seperti itu dan sudah lumayan sering dilakukan di luar negeri.
Sayangnya, skandal tersebut membuat Nuraningsih harus didepak dari Perfini dan sempat berurusan dengan polisi serta kejaksaan. Film-filmnya pun diboikot dari beberapa daerah seperti Kalimantan Timur.
Nurnaningsih memiliki cita-cita bisa bermain di Hollywood agar bisa sekelas idolanya, Marilyn Monroe. Bahkan seorang representatif 20th Century Fox pernah menyebut bahwa Nur adalah satu-satunya bintang film Indonesia yang memiliki syarat bermain di Hollywood.
“Dia kaya pengetahuan umum, menguasai beberapa bahasa asing, pandai bermain piano, pandai menyanyi, pandai melukis, dan berwajah menarik.” Menurut representatif 20th Century Fox.
Gagal ke Hollywood karena tersandung kasus foto syur, Nurnaningsih pergi menjelajah berbagai sudut Indonesia sebagai seniman dari melukis, bermain peran, bernyanyi, dan bahkan dia sempat menjajal bermain sepak bola sebagai penjaga gawang selama enam tahun. Nur akhirnya kembali ke dunia perfilman pada tahun 1960-an akhir dalam film Djakarta, Hongkong, Macao dan kemudian dilanjut dengan peran-peran kecil lain di berbagai film.
Nur terakhir tampil sebagai aktor dalam film Malam Satu Suro yang tayang pada tahun 1988 bersama mendiang Suzanna. Akhirnya rehat dari dunia perfilman, Nuraningsih meninggal dunia pada Maret 2004 karena penyakit diabetes.
Editor: Dyah Ayu Pamela