Potret Sungkeman Maxime Bouttier dan Luna Maya: Momen Haru dengan Sentuhan Adat Jawa yang Penuh Makna

Ibunda Luna, Desa Maya Waltraud Maiyer, hadir dengan rambut disanggul rapi sesuai adat Jawa, menambah kesan sakral dan penuh penghormatan dalam momen sungkeman yang penuh haru.
Luna bersimpuh di hadapan ibundanya sambil mencuci dan mencium kaki sang ibu sebagai simbol permohonan maaf dan restu. Ibunda Luna terlihat tak kuasa menahan air mata, menciptakan suasana haru yang sangat menyentuh. Luna didampingi kedua kakaknya yang juga ikut memberikan dukungan dan doa. Maxime melakukan sungkeman kepada ayahnya, Patrice Bouttier, yang hadir bersama keluarga. Karena ibunda Maxime telah meninggal dunia, izin menikah dimohonkan secara khusus kepada ayahnya dengan menggunakan bahasa Prancis.
Pernikahan ini memadukan tiga budaya, terlihat dari tata rias, busana, dan rangkaian acara. Prosesi siraman menggunakan air dari tujuh sumber mata air, termasuk dari kediaman keluarga Luna, masjid, lokasi akad nikah di Bali, air zamzam, hingga air dari Shanghai, melambangkan keberkahan dan penyatuan berbagai elemen dalam kehidupan mereka.
Luna Maya yang memiliki darah Jawa memilih adat Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada budaya dan nilai keluarga. Tradisi sungkeman melambangkan rasa hormat dan permohonan restu kepada orang tua sebelum memulai kehidupan baru sebagai pasangan suami istri, sekaligus membawa keberkahan dan kelancaran dalam pernikahan.
Potret sungkeman Maxime Bouttier dan Luna Maya tidak hanya menampilkan keindahan visual dari busana dan tata rias, tetapi juga mengandung nilai budaya dan emosional yang mendalam. Momen ini menjadi simbol kehangatan keluarga dan penghormatan pada tradisi, sekaligus menandai awal perjalanan cinta mereka yang penuh berkah.
Editor: Komaruddin Bagja