Profil Susilo Nugroho, Si Den Baguse Ngarso yang Meninggal Dunia di Usia 67 Tahun
JAKARTA, iNews.id - Dunia seni Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok penting. Seniman senior Susilo Nugroho, yang lebih dikenal lewat karakter ikonik Den Baguse Ngarso, meninggal dunia pada Senin (21/9/2026).
Susilo Nugroho mengembuskan napas terakhir di Yogyakarta dalam usia 67 tahun. Menurut keterangan keluarga, Den Baguse Ngarso meninggal dunia saat tidur.
Kepergian Susilo meninggalkan jejak panjang dalam dunia seni pertunjukan, khususnya di Yogyakarta. Namanya tidak hanya dikenal sebagai pemeran Den Baguse Ngarso, tetapi juga sebagai aktor teater, pelawak, pemain ketoprak, pemeran film, sekaligus pendidik.
Simak perjalanan hidup Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso, termasuk proses membangun karier sebagai seniman ternama di Yogyakarta.
Susilo Nugroho lahir di Yogyakarta pada 5 Januari 1959. Ia mulai mengenal dunia seni peran sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sekitar 1977. Ketertarikannya terhadap seni kemudian terus berkembang hingga membawanya menjadi salah satu aktor penting dalam dunia teater Yogyakarta.
Salah satu bagian paling penting dalam perjalanan Susilo adalah keterlibatannya dalam pendirian Teater Gandrik pada 1983.
Susilo mendirikan kelompok teater tersebut bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Saptaria Handayaningsih. Teater Gandrik kemudian tumbuh menjadi salah satu kelompok teater yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan seni pertunjukan di Yogyakarta.
Gandrik dikenal dengan gaya pertunjukan yang memadukan humor, kehidupan sehari-hari masyarakat, serta kritik sosial. Bagi Susilo, panggung bukan sekadar tempat untuk menghibur, tetapi juga ruang untuk menyampaikan gagasan melalui karakter dan cerita.
Perjalanan Susilo bersama Teater Gandrik pun berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan menjelang wafat, ia masih terlibat dalam komunikasi mengenai rencana pementasan baru kelompok tersebut.
Penulis lakon sekaligus rekan Susilo di Teater Gandrik, Agus Noor, mengungkapkan bahwa mereka masih sempat bercanda di grup WhatsApp. Susilo bahkan direncanakan menjadi pemeran utama dalam lakon Misteri Biduan Gaib.
Popularitas Susilo semakin meluas ketika ia memerankan karakter Den Baguse Ngarso dalam program Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Yogyakarta.
Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok priyayi yang sombong, sok tahu, sinis, ingin menang sendiri, dan kerap melontarkan ucapan tajam. Meski menjadi karakter antagonis, tingkah Den Baguse Ngarso justru mengundang tawa penonton.
Peran itu begitu kuat hingga nama Den Baguse Ngarso kemudian lebih dikenal masyarakat dibandingkan nama asli Susilo Nugroho.
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an, sosok Den Baguse Ngarso menjadi salah satu karakter yang sulit dilupakan. Karakter tersebut juga memperlihatkan kemampuan Susilo dalam memainkan tokoh yang menyebalkan sekaligus menghibur.
Di balik aktivitasnya sebagai seniman, Susilo ternyata juga menjalani profesi sebagai seorang guru.
Ia tercatat mengajar di SMK Negeri 1 Bantul. Menariknya, pengalaman sebagai seniman turut memengaruhi caranya mengajar. Susilo menggunakan pendekatan drama dalam menyampaikan materi kepada para siswa.
Pendidikan formalnya ditempuh di SD Suryodiningratan II Yogyakarta, SLTP Pangudi Luhur I Yogyakarta, kemudian SMA Kolese De Britto Yogyakarta.
Setelah lulus SMA, Susilo sebenarnya ingin mengambil jurusan sejarah. Namun, atas saran sang ayah, ia kemudian memilih kuliah di bidang pendidikan ekonomi di IKIP Sanata Dharma yang kini menjadi Universitas Sanata Dharma.
Jejak Susilo tidak berhenti di panggung teater dan televisi. Ia juga tampil dalam sejumlah film layar lebar maupun film pendek.
Beberapa film yang pernah dibintanginya antara lain Preman in Love (2009), Ayat-Ayat Adinda (2015), Ipar Adalah Maut (2024), dan Sah! Katanya… (2024). Ia juga tampil dalam film pendek Lemantun (2014), serta Nusabrata dan Mawawisa (2022).
Dalam Lemantun, Susilo bekerja sama dengan sutradara Wregas Bhanuteja. Wregas mengenang Susilo sebagai aktor yang gemar berimprovisasi dan mampu memberikan nyawa pada karakter yang dimainkannya.
Bahkan pada tahun terakhir kehidupannya, Susilo masih aktif di dunia akting. Ia disebut memerankan karakter Mbah Rekso dalam film Menuju Pelaminan.
Menariknya, meski puluhan tahun hidup di dunia seni, Susilo tidak menganggap popularitas sebagai tujuan utama.
Dalam wawancara sebelum meninggal, ia mengatakan dunia seni peran dijalaninya karena memang menyukai kesenian. Ia bahkan mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi artis.
Bagi Susilo, seni menjadi ruang untuk menjalani kesenangan, bertemu banyak orang, sekaligus terus berkarya.
Kini, perjalanan panjang itu telah berakhir. Susilo Nugroho meninggal dunia pada Senin (21/9/2026) dalam usia 67 tahun. Sosok yang selama puluhan tahun menghidupkan panggung teater, televisi, hingga film tersebut meninggalkan warisan berupa karya dan karakter yang telah menjadi bagian dari ingatan banyak orang.
Editor: Muhammad Sukardi