2 Jurnalis Al Jazeera Dipecat Setelah Posting Video Tentang Holocaust

Nathania Riris Michico ยท Senin, 20 Mei 2019 - 08:59 WIB
2 Jurnalis Al Jazeera Dipecat Setelah Posting Video Tentang Holocaust

Cuplikan layar video yang menuduh Israel mengeksploitasi Holocaust yang dilakukan oleh Nazi, yang dianggap melanggar kebijakan Al Jazeerah. (Foto: doc. Middle East Media Research Institute)

DOHA, iNews.id - Perusahaan penyiaran yang didanai negara Qatar, Al Jazeera, memecat dua wartawannya setelah merilis video yang mereka buat, yang mengklaim bahwa peristiwa Holocaust disalahartikan oleh orang-orang Yahudi.

Klip itu diposting di layanan online Al Jazeera, AJ +, dan isinya berisi narasi yang mengklaim bahwa pemebunuhan enam juta orang Yahudi yang dilakukan oleh Nazi "diadopsi oleh gerakan Zionis".

Enam juta orang Yahudi secara sistematis dibunuh oleh Nazi selama Perang Dunia II.

Foto-foto tentang penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi Eropa yang hidup di bawah pemerintahan Nazi, serta foto-foto korban yang terbunuh itu disertai dengan narasi yang menanyakan, "Mengapa hanya ada fokus pada mereka?"

Video itu menyatakan, "Bersama dengan yang lain, orang-orang Yahudi menghadapi kebijakan penganiayaan sistematis yang memuncak dalam Final Solution."

Namun klip itu berlanjut dan menunjukkan pesan bahwa, karena akses komunitas Yahudi ke sumber daya keuangan dan lembaga media, mereka mampu "menyoroti" penderitaan kaum Yahudi.

"Konten video dan posting-an yang menyertai video itu dengan cepat dihapus oleh manajemen senior AJ + dari semua halaman dan akun AJ + di media sosial, karena melanggar standar editorial jaringan," demikian pernyataan Al Jazeera Media Network, seperti dilaporkan AFP, Senin (20/5/2019).

"Al Jazeera sepenuhnya menolak konten ofensif yang dipermasalahkan dan menegaskan bahwa Al Jazeera tidak akan mentolerir materi seperti itu," ujar Yaser Bishr, direktur eksekutif divisi digital.

Bishr juga menyerukan "pelatihan bias wajib" bagi seluruh jurnalis.

"Klip dan posting-an itu pertama kali diterbitkan pada 18 Mei, dengan cepat dihapus oleh manajemen," isi pernyataan itu, menambahkan.

Editor : Nathania Riris Michico