54 Demonstran Myanmar Tewas Ditembak Aparat, AS Tambah Sanksi ke Junta Militer

Djairan ยท Jumat, 05 Maret 2021 - 08:04:00 WIB
54 Demonstran Myanmar Tewas Ditembak Aparat, AS Tambah Sanksi ke Junta Militer
Pendemo Protes Kudeta di Myanmar (Foto: Reuters)

WASHINGTON, iNews.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS), Kamis (4/3/2021) waktu setempat, mengumumkan sanksi terbaru terhadap junta militer Myanmar atas kudeta. Washington memasukkan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Myanmar serta dua perusahaan yang dikelola militer ke daftar hitam perdagangan.

Dua perusahaan tersebut, yakni Myanmar Economic Corporation dan Myanmar Economic Holdings Limited, yang merupakan perusahaan besar milik militer Myanmar. Perusahaan itu berpengaruh besar terhadap ekonomi Myanmar, dengan bisnis mulai dari pertambangan, rokok, bir, ban, real estat, hingga telekomunikasi.

Diketahui, Kementerian Dalam Negeri Myanmar memasok teknologi dari perusahaan AS yang digunakan untuk mengawasi media sosial masyarakat. AS juga membatasi akses junta militer terhadap kontrol ekspor. Langkah itu bertujuan membatasi militer untuk mendapat keuntungan atas akses ke banyak barang.

“Pemerintah AS akan terus meminta pertanggungjawaban pelaku kudeta atas tindakan mereka,” ujar Departemen Perdagangan AS dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, Jumat (5/3/2021).

Tindakan itu dilakukan sebagai respons atas kekerasan yang dilakukan aparat Myanmar menghadapi demonstran. Di mana hingga Rabu (3/3/2021) PBB mengatakan 54 orang tewas sejak kudeta 1 Februari, ketika demonstran anti-kudeta bentrok dengan aparat keamanan.

Bulan lalu, Biden memberlakukan sanksi terhadap militer yang bertanggung jawab atas penahanan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, seperti pemblokiran menteri pertahanan dan tiga perusahaan di sektor batu giok dan permata.

Sementara itu, junta militer Myanmar mengaku tidak khawatir dengan sanksi apa pun dari Negara luar. Seperti yang disampaikan Wakil Panglima Militer Myanmar, Soe Win, kepada utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener.

“Jawaban dia 'Kami sudah terbiasa dengan sanksi, dan buktinya kami selamat. Saya juga memperingatkan mereka (militer) bahwa Myanmar bisa terisolasi, jawabannya ‘Kami harus belajar berjalan dengan sedikit teman',” kata Schraner Burgener.

Editor : Muhammad Fida Ul Haq