55 Gajah Mati akibat Kekeringan di Zimbabwe

Nathania Riris Michico ยท Selasa, 22 Oktober 2019 - 09:32 WIB
55 Gajah Mati akibat Kekeringan di Zimbabwe

Puluhan gajah mati akibat kekeringan di Zimbabwe. (FOTO: Flickr)

HARARE, iNews.id - Setidaknya 55 gajah di Zimbabwe mati dalam sebulan akibat kekurangan makanan dan air. Badan satwa liar di Zimbabwe menyebut, negara itu menghadapi salah satu masa kekeringan terburuk dalam sejarah.

Lebih dari lima juta warga Zimbabwe di pedesaan -hampir sepertiga dari populasi- berisiko kekurangan pangan sebelum panen berikutnya pada 2020.

Kekurangan itu disebabkan oleh efek gabungan dari penurunan ekonomi dan kekeringan yang disebabkan siklus cuaca.

Dampak kekeringan ini dirasakan di Taman Nasional Hwange, cagar alam terbesar di Zimbabwe.

"Sejak September, kami kehilangan setidaknya 55 gajah di Taman Nasional Hwange karena kelaparan dan kekurangan air," kata juru bicara Taman Nasional Zimbabwe, Tinashe Farawo, kepada AFP, Selasa (22/10/2019).

Farawo mengatakan, taman itu terlalu padat; dan makanan serta air langka karena kekeringan.

Jumlah gajah Afrika turun dari sekitar 415.000 menjadi 111.000 selama 10 tahun terakhir, terutama karena perburuan gading liar.

Namun Zimbabwe, seperti negara-negara lain di wilayah Afrika selatan, sedang berjuang dengan kelebihan populasi.

"Hwange dimaksudkan untuk 15.000 gajah, tetapi saat ini kita yang kita bicarakan ada lebih dari 50.000," kata Farawo.

"Situasinya mengerikan. Kami mati-matian menunggu hujan."

Seekor gajah dewasa rata-rata meminum 680 liter (180 galon) air per hari dan mengonsumsi 450 kilogram makanan.

Gajah-gajah kelaparan keluar dari cagar alam Zimbabwe dan menyerbu pemukiman manusia untuk mencari makanan, yang menjadi ancaman bagi masyarakat di sekitar.

Farawo mengatakan, 200 orang tewas akibat serangan hewan dalam lima tahun terakhir, dan setidaknya 7.000 hektar tanaman hancur oleh serbuan gajah.

Pihak berwenang mengambil tindakan awal tahun ini dengan menjual hampir 100 gajah ke China dan Dubai dengan harga 2,7 juta dolar.

Farawo mengatakan uang itu dialokasikan untuk proyek-proyek anti-perburuan dan konservasi.


Editor : Nathania Riris Michico