Ada 1.500 'Desa Hantu' di Spanyol

Anton Suhartono ยท Sabtu, 30 Maret 2019 - 06:16 WIB
Ada 1.500 'Desa Hantu' di Spanyol

Desa tak berpenghuni di Provinsi Soria, Spanyol (Foto: AFP)

MADRID, iNews.id - Desa hantu semakin bertambah di Spanyol. Daerah perdesaan maupun di pegunungan ditinggal warganya untuk pindah atau mencari pengidupan lebih baik di kota.

Elvira Fafian, pendiri Aldeas Abandonadas, agen properti yang membantu penjualan rumah di perdesaan, mengatakan, saat ini ada sekitar 1.500 desa di Spanyol yang ditelantarkan warganya.

Menurut dia, sejak dewan pemerintah daerah mengharuskan warga untuk merawat rumah mereka, jumlah penduduk yang hengkang terus bertambah. Mereka tak sanggup jika harus merenovasi rumah yang sudah hancur.

"Fenomena desa hantu cenderung tumbuh," katanya, dikutip dari Bloomberg, Jumat (29/3/2019).

Perpindahan warga desa ke kota menjadi tren di sebagian besar negara Eropa dan Spanyol merupakan juaranya. Sekitar 53 persen wilayah Spanyol kini kekurangan populasi, yakni kurang dari 12,5 jiwa per kilometer persegi. Ini merupakan yang terburuk di Eropa barat.

Tak heran jika isu depopulasi perdesaan menjadi inti pembahasan kampanye para kandidat dalam pemilihan umum yang digelar pada April.

Hal ini diperburuk dengan rendahnya angka kelahiran di Negeri Matador itu. Data mengungkap, tingkat kesuburan di Spanyol hanya 1,3 persen pada 2017, terendah kedua di kalangan negara Uni Eropa (UE), setelah Malta.

Sementara itu kesenjangan tingkat kelahiran antara di perkotaan dan perdesaan Spanyol merupakan yang terbesar di Uni Eropa. Hal ini berdampak luas termasuk ke perekonomian, yakni kurangnya jumlah pengusaha yang kelak bisa menghasilkan lapangan kerja dan mendorong perekonomian lokal.

"Banyak ahli mengatakan, 70 persen dari populasi akan tinggal di kota-kota besar pada 2050," kata Isaura Leal, penasihat pemerintah tentang depopulasi perdesaan.

Seorang mantan warga desa, Gustavo Iglesias, mengatakan, tidak ada alasan bagi dirinya dan penduduk lain untuk bertahan di kampung.

Pria yang sebelumnya tinggal di Acorrada, Galicia, itu pindah ke kota untuk bekerja. Dia meninggalkan desanya di mana dia memiliki enam rumah dan toko gandum yang menghadap ke lembah yang subur nan indah.

Keluarganya telah tinggal di sana selama beberapa generasi dengan mengandalkan pendapatan dari menanam gandum dan memelihara sapi. Namun saat ayahnya meninggal 30 tahun lalu, rumah dan peternakannya dikosongkan dan dibiarkan hancur.

Sekarang pria 57 tahun itu bekerja sebagai polisi pelabuhan di Burela, kota pantai di Galicia.

Dia menjual semua propertinya di desa dengan harga hanya 85.000 euro atau sekitar Rp1,3 miliar.

"Saya berharap ada orang yang mau membeli, sehingga (peternakan) itu bisa berlanjut," ujarnya.

Editor : Anton Suhartono