Ada Potensi Diserang Geng Narkoba, Pengawalan PM Belanda Mark Rutte Diperketat
AMSTERDAM, iNews.id - Pengawalan terhadap Perdana Menteri Belanda Mark Rutte diperketat setelah kepolisian menangkap sinyal kemungkinan serangan. Potensi serangan terhadap Rutte datang dari geng kriminal perdagangan narkoba, seperti dilaporkan surat kabar De Telegraaf.
Kekerasan bersenjata di Belanda jarang terjadi, namun pembunuhan dan kekerasan terkait kejahatan narkoba menjadi hal biasa dalam beberapa tahun terakhir. Para geng narkoba bersaing memperbutkan wilayah kekuasaan.
Sumber pejabat pemerintah membenarkan laporan De Telegraaf, namun otoritas keamanan nasional menolak mengomentari laporan tersebut.
Sementara itu Rutte dalam pernyataan kepada wartawan seolah membenarkan pengamanannya diperketat.
Menteri Luar Negeri Belanda Sigrid Kaag Mundur Gara-Gara Pengungsi Afghanistan
"Keselamatan dan perlindungan merupakan hal yang tidak pernah dibahas di depan umum," ujarnya, dikutip dari Reuters, Senin (27/9/2021).
Pemerintahan konservatif di bawah Rutte bersumpah memberantas kejahatan terorganisasi.
PM Belanda Mark Rutte Minta Maaf Cabut Pembatasan Terlalu Dini, Kasus Covid Melonjak Lagi
Pria yang sudah 11 tahun menjabat perdana menteri itu sering terlihat bersepeda dari rumahnya di Den Haag menuju kantor pemerintah maupun saat pulang. Di perjalanan dia sering didekati oleh warga yang lewat berfoto dengannya atau sekadar mengobrol.
Kekerasan terkait kejahatan narkoba di Belanda meningkat belakangan ini. Seorang jurnalis kriminal, Peter R de Vries, ditembak di siang bolong di Amsterdam pada Juli lalu atau beberapa bulan setelah menjadi saksi dalam kasus narkoba kelas kakap. Dia tewas beberapa hari kemudian.
Seorang mantan pengacara juga dibunuh dengan cara yang sama di depan rumahnya di Amsterdam pada 2019.
Ancaman lain terhadap politisi lumayan sering di Belanda. Pemimpin oposisi anti-Islam Geert Wilders terpaksa tinggal di persembunyian serta hidup dikelilingi pengawal sejak 2004. Ancaman pembunuhan terhadapnya meningkat terkait komentarnya yang anti-Islam dan imigran.
Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa orang didenda atau dihukum penjara karena mengancam menteri dan anggota parlemen terkait kebijakan pembatasan Covid-19.
Editor: Anton Suhartono