Aksi Unjuk Rasa di Cile, 5 Orang Ditemukan Tewas di Pabrik yang Sengaja Dibakar

Anton Suhartono ยท Senin, 21 Oktober 2019 - 10:34 WIB
Aksi Unjuk Rasa di Cile, 5 Orang Ditemukan Tewas di Pabrik yang Sengaja Dibakar

Lima orang tewas terbakar di pabrik garmen di Cile saat berlangsungnya demonstrasi menolak kenaikan tarif transportasi (Foto: AFP)

SANTIAGO, iNews.id - Aksi unjuk rasa menentang kenaikan ongkos transportasi di Cile kembali memakan korban jiwa. Lima orang tewas terbakar di sebuah pabrik garmen, Minggu (20/10/2019). Pabrik yang berlokasi di dekat ibu kota Santiago itu sengaja dibakar oleh para penjarah.

Dengan demikian, jumlah korban tewas sejak aksi unjuk rasa menentang kenaikan ongkos transportasi metro di Cile berlangsung, yakni Jumat (18/10/2019), menjadi tujuh orang.

Petugas pemadam kebakaran mengatakan, lima orang tersebut tewas di pabrik garmen Kota Renca, sebelah utara Santiago, yang sengaja dibakar oleh para perusuh.

"Sayangnya, lima jemazah ditemukan di dalam pabrik," kata Kepala Pemadam Kebakaran Santiago, Diego Velasquez, dikutip dari AFP, Senin (21/10/2019).

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri dan Keamanan Andres Chadwick mengatakan, dua perempuan tewas terbakar setelah gerai retail asal Amerika Serikat, Walmart, dibakar pada Minggu dini hari.

Korban ketiga, awalnya disebut pihak berwenang telah meninggal, ternyata masih hidup dan kini di rumah sakit. Dia menderita luka bakar 75 persen.

Kondisi di kota-kota besar Cile, terutama Santiago, memanas sehingga memaksa presiden mengeluarkan status darurat yang diiringi dengan pemberlakuan jam malam di lima wilayah.

Polisi dan militer menembakkan gas air mata serta menggunakan water cannon untuk membubarkan pengunjuk rasa di Santiago pada hari ketiga yakni Minggu.

Hampir semua angkutan umum di kota berpenduduk 7 juta jiwa itu tak beroperasi, toko-toko tutup, serta banyak penerbangan baik kedatangan maupun keberangkatan di bandara internasional Santiago dibatalkan.

Setelah pertemuan darurat dengan pejabat pemerintahan pada Minggu, Presiden Sebastian Pinera memutuskan untuk memperpanjang keadaan darurat hingga Senin dini hari. Keadaan darurat pertama kali diterapkan pada Jumat.

Seiring dengan keputusan itu, ribuan tentara dikerahkan ke jalan-jalan. Ini merupakan pengerahan pasukan besar-besaran pertama kali sejak pemerintahan diktator Augusto Pinochet yang memimpin pada 1974-1990.

"Demokrasi tidak hanya memiliki hak, dia juga memiliki kewajiban untuk mempertahankan diri menggunakan semua instrumen yang disediakan oleh demokrasi itu sendiri, dan supremasi hukum (ditegakkan) untuk memerangi mereka yang ingin menghancurkannya," kata Pinera.

Pihak berwenang melaporkan, 103 insiden serius terjadi di seluruh Cile dengan 1.462 orang ditahan, di mana 614 di antaranya berada di Santiago dan 848 di kota lain.

Para pengunjuk rasa membakar bus, merusak stasiun metro, merobohkan lampu lalu lintas, mengobrak-abrik dan menjarah toko, serta bentrok dengan polisi anti huru hara.

Aksi unjuk rasa dipicu keputusan pemerintah menaikkan tarif metro pada Jumat, di saat warga menyatakan kemarahan atas kesenjangan sosial yang semakin parah akibat penerapan sistem ekonomi liberal oleh pemerintah.

Pada Sabtu, Pinera mengumumkan penundaan kenaikan ongkos transportasi. Dia mengakui bahwa demonstran memiliki alasan yang tepat untuk turun ke jalan, seraya meminta mereka untuk menyampaikan pendapat secara damai.

Namun seruan tersebut gagal mencegah kerusuhan dan penjarahan lebih lanjut, tidak hanya di Santiago tapi juga kota lain seperti Valparaiso dan Concepcion, di mana keadaan darurat juga diberlakukan.

Editor : Anton Suhartono