Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rekor Penerbangan Terpanjang, Pesawat Airbus A350 Terbang 24 Jam Nonstop Australia-Prancis
Advertisement . Scroll to see content

Anies Sebut DKI Lacak Kasus Corona sejak Januari, Kasus Infeksi Diperkirakan 30.000

Selasa, 12 Mei 2020 - 06:33:00 WIB
Anies Sebut DKI Lacak Kasus Corona sejak Januari, Kasus Infeksi Diperkirakan 30.000
Anies Baswedan (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memulai pelacakan potensi kasus virus corona sejak Januari 2020, sebulan sebelum Indonesia mengonfirmasi kasus pertama Covid-19 yakni pada 2 Maret.

Hal itu diungkapkan Gubernur Anies Baswedan dalam wawancara dengan surat kabar Australia Sydney Morning Herald (SMH).

Anies mengungkapkan, pada 6 Januari atau setelah mendengar kasus virus corona baru di Wuhan, China, pemerintahannya langsung bergerak.

“Kami mulai mengadakan pertemuan dengan semua rumah sakit di Jakarta, memberi tahu mereka tentang, pada waktu itu kami menyebut 'pneumonia Wuhan', belum ada (istilah) Covid,” kata Anies, kepada SMH.

Dia melanjutkan, sambungan telepon hotline pun dibuat di 190 rumah sakit Jakarta untuk mengetahui kasus yang dicurigai.

"Jumlahnya terus meningkat pada Januari, pada Februari, dan kemudian segera kami menetapkan keputusan pemerintah agar semua orang di kantor kami, pemerintah provinsi, semua diberi tugas untuk menangani Covis ini," kata Anies.

Meski demikian, lanjut Anies, kemampuan pemerintah provinsi terbatas. Hal ini terkait dengan tes yang harus melalui izin pemerintah pusat.

“Pada waktu itu kami tidak diizinkan melakukan tes. Jadi, setiap kali ada kasus, kami mengirimkan sampel ke lab nasional. Dan kemudian lab nasional akan menginformasi, positif atau negatif. Pada akhir Februari, kami bertanya-tanya mengapa semuanya negatif?” ujarnya.

Soal kondisi saat ini, Anies belum yakin apakah kurva sudah mulai rata. Menurut dia, butuh waktu hingga beberapa pekan lagi untuk memastikan apakah kondisi sudah membaik atau sebaliknya.

"Saya belum yakin apakah kita akan merata. Kita harus menunggu beberapa minggu ke depan untuk menyimpulkan apakah trennya sedang atau kita masih bergerak naik," katanya.

Ini bertolak belakang dengan pernyataan Gugus tugas Covid-19 yang dibentuk pemerintah pusat yang menilai kehidupan akan mulai membaik pada Juni atau Juli.

"Mengapa saya tidak ingin membuat prediksi? Karena saya melihat data, itu tidak mencerminkan sesuatu yang akan segera berakhir. Itulah yang dikatakan oleh para ahli epidemiologi. Ini adalah waktu di mana para pembuat kebijakan perlu mempercayai ilmu pengetahuan,” kata Anies.

Untuk mendukung klaim bahwa Jakarta memiliki kasus lebih banyak dari angka resmi yaitu 4.700-an kasus dan 400-an korban meninggal, Anies mengutip data kenaikan tajam dalam jumlah pemakaman, yakni 4.300 pada paruh kedua Maret dan 4.590 pada April.

Dalam kondisi nornal, ada 3.000 proses pemakaman setiap bulan di Jakarta. Data pada Maret dan April menunjukkan ada penambahan 1.500 kematian rata-rata per bulan.

"Kelebihan kematian ini merupakan kasus Covid dengan kemungkinan tinggi,” ujarnya.

Dari angka itu Anies menghitung, jika diasumsikan kasus kematian akibat virus corona 5 sampai 10 persen, artinya total kasus infeksi bisa mencapai 15.000 hingga 30.000 infeksi untuk Jakarta saja.

“Kami kira jumlah (kematian dan infeksi) jauh lebih tinggi dari apa yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut