AS Dakwa 7 Warga China dan Malaysia Pelaku Peretasan Global, termasuk Curi Data Pribadi

Anton Suhartono ยท Kamis, 17 September 2020 - 05:30 WIB
AS Dakwa 7 Warga China dan Malaysia Pelaku Peretasan Global, termasuk Curi Data Pribadi

Amerika Serikat mendakwa 5 warga China dan 2 Malaysia sebagai pelaku peretasan global (Foto: AFP)

WASHINGTON, iNews.id - Departemen Kehakiman Amerika Serikat mendakwa lima warga negara China dan dua Malaysia atas tuduhan sebagai pelaku peretasan global setidaknya selama 6 tahun. Mereka mencuri data pribadi dan teknologi video game, menanam ransomware, serta memata-matai aktivis Hong Kong.

Tiga dari warga China beroperasi melalui Chengdu 404, perusahaan berbasis di Sichuan yang menawarkan jasa layanan keamanan jaringan.

Mereka telah meretas komputer milik ratusan perusahaan di seluruh dunia untuk mengumpulkan data pribadi, membajak sistem komputer dengan meminta tebusan, serta meretas ribuan komputer dari jarak jauh untuk menambang mata uang kripto seperti bitcoin. Dua warga China lainnya juga pernah bekerja untuk Chengdu 404.

Sementara dua warga Malaysia didakwa meretas perusahaan game besar untuk mencuri data rahasia serta 'artefak game', kemungkinan chit serta kredit game yang bisa diperjualbelikan.

Ketujuh orang tersebut telah lama dikenal oleh para ahli keamanan siber sebagai organisasi peretasan 'APT41', berdasarkan hasil identifikasi dari alat dan teknik yang mereka gunakan.

Dalam surat dakwaan juga disebutkan dugaan kelompok tersebut ada kaitan dengan Pemerintah China, meskipun tak dijelaskan kaitannya.

Namun, berdasarkan catatan salah seorang peretas Chengdu 404, Jiang Lizhi, pernah mengatakan kepada rekannya pada 2012 bahwa dia dilindungi oleh Kementerian Keamanan Negara China. Pengakuan itu mengindikasikan mereka dilindungi jika tidak meretas di dalam negeri.

"Beberapa kejahatan yakin hubungan mereka dengan RRC memberi mereka lisensi gratis untuk meretas dan mencuri di seluruh dunia," kata Jaksa Federal Michael Sherwin, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Kamis (17/9/2020).

Dakwaan tersebut tidak menyebut adanya motif politik di balik aktivitas peretasan, meskipun mereka mendapatkan akses ke sistem komputer pemerintah di India dan Vietnam.

Hanya saja dokumen mengungkap pada 2018 Chengdu 404 menggelar program untuk mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang terlibat dalam gerakan demokrasi Hong Kong, pada grup media AS yang melaporkan diskriminasi terhadap minoritas Uighur di Xinjiang, serta pada seorang biksu Budha di Tibet.

Ketujuh orang tersebut menghadapi berbagai tuduhan termasuk penipuan komputer dan jaringan, pencurian data pribadi, pencucian uang, dan pemerasan.

Lima warga China masih buron, namun dua warga Malaysia ditangkap di Malaysia. Otoritas AS sedang mengupayakan agar mereka diekstradisi.

Editor : Anton Suhartono