Aung San Suu Kyi Calonkan Diri Lagi Jadi Pemimpin Myanmar

Anton Suhartono ยท Selasa, 04 Agustus 2020 - 16:15 WIB
Aung San Suu Kyi Calonkan Diri Lagi Jadi Pemimpin Myanmar

Aung San Suu Kyi mencalonkan diri kembali menjadi pemimpin Myanmar (Foto: AFP)

YANGON, iNews.id - Aung San Suu Kyi resmi maju kembali dalam pemilihan pemimpin Myanmar untuk periode selanjutnya. Pemilu akan digelar pada November mendatang.

Perempuan berusia 75 tahun itu mendaftar untuk mencalonkan diri sebagai kandidat, Selasa (4/8/2020). Dia disambut puluhan pendukungnya saat mendaftar di kantor komisi pemilihan di Yangon.

Beberapa pendukung mengenakan topeng merah sebagai dukungan kepada Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) serta berteriak, "Sehatlah, Bunda Suu".

Suu Kyi dianggap sebagai sosok pendobrak demokrasi di Myanmara setelah negara itu dipimpin junta militer selama puluhan tahun. Dia diharapkan bisa mengambil alih kendali pemerintahan setelah memenangkan pemilu pada 2016. Namun masih kuatnya pengaruh militer menyebabkan Suu Kyi harus berbagi kekuasaan dengan para jenderal.

Namun reputasi internasional Suu Kyi merosot terkait penanganan pemerintah terhadap muslim Rohingya. Lebih dari 730.000 muslim etnis Rohingya eksodus ke Bangladesh sejak Agustus 2017 akibat penindasan, pembunuhan, serta pemerkosaan yang disebut oleh PBB sebagai genosida.

Meski demikian, namanya tetap populer di dalam negeri. Rakyat Myanmar tampaknya tak mempermasalahkan sorotan dunia atas kekejaman terhadap kelompok minoritas Rohingya.

Pada Januari, Suu Kyi mengakui bahwa kejahatan perang mungkin dilakukan terhadap Rohingya, namun membantah adanya genosida. Peraih Nobel Perdamaian itu menuduh para pengungsi Rohingya melebih-lebihkan pelanggaran terhadap mereka.

Pada akhir 2019, Suu Kyi mewakili sendiri pemerintah Myanmar dalam sidang gugatan yang diajukan Gambia ke Pengadilan Internasional (ICJ) di Den Haag, Belanda. Gambia, mewakili negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), menuduh Myanmar melanggar Konvensi 1948 dengan melakukan genosida yang berkelanjutan terhadap etnis Rohingya.

Dalam putusan pada Januari 2020, Pengadilan Internasional memerintahkan Myanmar mengambil semua langkah untuk mencegah genosida terhadap muslim Rohingya.

"Myanmar harus mengambil semua langkah dalam kekuasaannya untuk mencegah semua tindakan yang dijelaskan oleh konvensi," kata Hakim Ketua, Abdulqawi Ahmed Yusuf.

Pengadilan memerintahkan Myanmar melaporkan kembali perkembangannya dalam waktu 4 bulan, dan kemudian setiap 6 bulan.

Editor : Anton Suhartono