Bantu Identifikasi Pelaku Bom Gereja, RI Kirim Petugas ke Filipina

Anton Suhartono, Antara ยท Senin, 04 Februari 2019 - 13:47 WIB
Bantu Identifikasi Pelaku Bom Gereja, RI Kirim Petugas ke Filipina

Presiden Rodrigo Duterte (depan, 3 dari kanan) meninjau gereja di Jolo (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) akan mengirim petugas ke Filipina untuk membantu identifikasi pelaku pengeboman gereja di Jolo, Provinsi Sulu, pada Minggu (27/1/2019).

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano menyebut pelaku bom bunuh diri merupakan pasutri warga Indonesia. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Kepala Kepolisian Nasional Filipina Oscar Albayalde yang menyebut pelaku pria biasa disebut dengan Abu Hud.

"BNPT dan Kemenlu sedang melakukan penjajakan dan memastikan, bahkan kita akan mengirim orang ke sana untuk memastikan ini (pelaku)," kata Wiranto, Senin (4/2/2019).

Menurut dia, pernyataan Mendagri Ano soal keterlibatan WNI masih sepihak. Pemerintah Indonesia belum diberi tahu sebelumnya.

"Saya sampaikan bahwa itu kan berita sepihak. BNPT dan Kemlu sudah melakukan pengecekan dan koordinasi yang saat ini belum selesai," katanya.

Bahkan, lanjut dia, otoritas Filipina masih mengusut dan memastikan siapa pelakunya.

"Masih banyak kemungkinan, jangan buru-buru vonis bahwa itu orang Indonesia," ujarnya.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak terjebak dengan pernyataan sepihak Filipina terkait pelaku aksi teror.

"Jangan sampai ada satu pemahaman kita sendiri atas dasar pernyataan sepihak yang langsung memvonis bahwa itu akan orang Indonesia melakukan kejahatan terorisme di negara lain," tuturnya.

Sebelumnya Kepala Kepolisian Nasional Filipina Oscar Albayalde mengungkap, informasi mengenai keterlibatan pasutri itu didapat dari keterangan tersangka utama Kamah Pae yang menyerahkan diri bersama empat orang lainnya pada akhir pekan.

Kamah disinyalir berkonspirasi dengan pasutri WNI untuk menyerang gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel.

Menurut Albayalde, pasutri tersebut masuk ke Pulau Jolo melalui jalur laut, yakni dari Pulau Lampinigan, Provinsi Basilan, pada 24 Januari 2019.

Mereka tinggal di Lampinigan selama beberapa hari. Namun Albayalde tak bisa memastikan, apakah pasutri itu datang ke Lampinigian langsung dari Indonesia, atau sudah tinggal di Mindanao sejak lama. Soal identitas, Albayalde menyebut sang pria memiliki nama panggilan Abu Hud.

Menurut dia, masih ada 14 tersangka lain yang diburu, termasuk pemimpin kelompok militan Ajang-Ajang, Hatib Sawadjaan serta warga Indonesia lainnya. Ajang-Ajang merupakan salah satu faksi dari kelompok Abu Sayyaf yang disebut-sebut bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan 23 orang itu.

Editor : Anton Suhartono