Berlinang Air Mata, Pria Transgender Korea Selatan Ini Memohon Tetap Bisa Jadi Tentara

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 22 Januari 2020 - 16:18 WIB
Berlinang Air Mata, Pria Transgender Korea Selatan Ini Memohon Tetap Bisa Jadi Tentara

Sersan staf Angkatan Darat Korea Selatan Byun Hee-soo menangis ketika menyatakan keinginannya untuk tetap di militer. (FOTO: YONHAP / AFP)

SEOUL, iNews.id - Seorang tentara transgender Korea Selatan (Korsel), yang mendaftar sebagai pria dan menjalani pergantian jenis kelamin tahun lalu, memohon dengan berlinang air mata agar diizinkan tetap berada di militer. Dia memohon tetap menjadi tentara setelah militer memutuskan melepaskannya.

Korsel tetap sangat konservatif mengenai masalah identitas seksual dan kurang toleran terhadap hak-hak LGBT daripada beberapa bagian lain di Asia. Banyak gay dan waria hidup 'di bawah radar' di Korea.

Byun Hee-soo, seorang sersan berusia 20-an, mendaftar secara sukarela pada 2017, dan melakukan operasi penggantian kelamin pada November 2019 di Thailand.

Dia menyatakan keinginannya tetap menjadi tentara, namun panel militer memutuskan pada Rabu (22/1/2020) bahwa dia akan diberhentikan secara wajib.

Byun tampil di konferensi pers dengan mengenakan seragam dan memberi hormat pada jurnalis dan kamera yang berkumpul.

"Saya seorang tentara Republik Korea," katanya, dengan suara pecah, seperti dikutip AFP.

Melayani di militer selalu menjadi impian masa kecil, kata Byun, namun dia menderita depresi akibat disforia gender, yang mendorongnya menjalani operasi ganti kelamin.

"Mengesampingkan identitas seksual saya, saya ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa saya bisa menjadi salah satu prajurit hebat yang membela negara ini," kata Byun, menahan tangis.

Byun Hee-soo secara sukarela mendaftar sebagai tentara sebelum menjalani operasi penggantian kelamin. (FOTO: AFP/YONHAP)
Byun Hee-soo secara sukarela mendaftar sebagai tentara sebelum menjalani operasi penggantian kelamin. (FOTO: AFP/YONHAP)

 

"Tolong beri saya kesempatan itu."

Korea Selatan memiliki pasukan wajib militer yang betugas mempertahankan diri melawan Korut yang bersenjata nuklir. Semua warga negara lelaki berbadan sehat wajib ikut wajib militer selama hampir dua tahun.

Seorang juru bicara kementerian pertahanan mengatakan, Byun sudah menjalani tes di rumah sakit militer, yang mengklasifikasikan hilangnya alat kelamin laki-laki sebagai cacat mental atau fisik, yang mendorong dibuatnya tinjauan panel.

"Kasusnya sesuai dengan salah satu alasan bahwa (dia) tidak dapat melanjutkan pelayanan," demikian pernyataan militer, tanpa memberikan rincian.

Militer menegaskan pihaknya berusaha menghindari diskriminasi dan perlakuan tidak adil.

Pusat Hak Asasi Manusia Militer untuk Korea, sebuah kelompok advokasi di Seoul, mengatakan tentara sudah memerintahkan Byun untuk diberhentikan secara efektif ketika dia meninggalkan rumah sakit.

"Ini menunjukkan tekad militer untuk tidak mengizinkan transgender dalam pasukan bahkan untuk satu detik," kata kepala organisasi itu Lim Tae-hoon.

"Ini benar-benar kejam."

Editor : Nathania Riris Michico