Demo Prancis Chaos, Massa Lempar Kembang Api ke Polisi Dibalas Gas Air Mata
Sebelum demonstrasi berlangsung, Presiden Emmanuel Macron menyerukan agar situasi tetap terkendali. Dia menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, tetapi tetap harus menghormati orang lain dan properti.
"Ada hak konstitusional untuk melakukan protes dan mengekspresikan diri," ujar Macron di Brussels, Jumat (16/10/2026).
"Namun, hak ini juga menuntut adanya rasa hormat—hormat terhadap sesama, hormat terhadap properti, dan dengan demikian, komitmen untuk tidak melakukan penghinaan maupun perusakan," lanjutnya.
Sementara itu, polisi melarang sejumlah rencana pertemuan lainnya di pusat Kota Paris. Banyak stasiun metro juga ditutup atas permintaan kepolisian, termasuk stasiun di sekitar Champs-Élysées serta kawasan dekat istana kepresidenan, parlemen, dan kantor-kantor pemerintah.
Gelombang protes di Prancis dalam beberapa pekan terakhir juga diwarnai penangkapan, korban luka, dan pembakaran sejumlah sekolah. Aksi pelajar berskala nasional tersebut turut memengaruhi dinamika politik menjelang pemilihan presiden dan menarik perhatian internasional.
Sejumlah pengunjuk rasa menuding penggunaan senjata pengendalian massa oleh polisi menyebabkan luka serius pada beberapa remaja. Menyusul insiden yang menyebabkan seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan salah satu tangannya, Nuñez menangguhkan penggunaan salah satu jenis granat kejut kepolisian terhadap demonstran muda.
Pada Selasa (13/10/2026), aktivis iklim dan keadilan sosial Greta Thunberg juga bergabung dengan para pelajar di sebuah sekolah menengah di Saint-Denis, wilayah pinggiran Paris.
Editor: Rizky Agustian