Didakwa Korupsi, PM Israel Netanyahu Minta Kekebalan dari Parlemen

Anton Suhartono ยท Kamis, 02 Januari 2020 - 09:41 WIB
Didakwa Korupsi, PM Israel Netanyahu Minta Kekebalan dari Parlemen

Benjamin Netanyahu (Foto: AFP)

TEL AVIV, iNews.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan meminta kepada parlemen untuk melindunginya terkait tiga dakwaan kasus suap yang dihadapinya.

Netanyahu didakwa pada November 2019 atas tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan melibatkan bos media Israel. Sebagai imbalannya, Netanyahu mendapat uang dan barang bernilai ratusan juta dolar AS serta pemberitaan positif.

Dia membantah semua dakwaan tersebut dengan alasan telah menjadi korban perburuan nenek sihir oleh media massa serta pihak lain yang ingin menggulingkannya dari kekuasaan.

Permintaan itu dia sampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional, Rabu (1/1/2020), hanya 4 jam sebelum batas waktu pengajuan permohonan kekebalan ke parlemen berakhir.

Netanyahu menegaskan, dakwaan terhadapnya bermotif politik dan dia berhak mendapat kekebalan hukum dari parlemen.

"Dalam sebuah demokrasi, hanya orang-orang yang memutuskan siapa yang akan memimpin mereka," kata Netanyahu, seraya menyebut dakwaan terhadapnya bisa disamakan dengan upaya kudeta, seperti dikutip dari Reuters.

Di bawah hukum Israel, Netanyahu, yang juga anggota parlemen, bisa meminta kekebalan jika argumennya dapat diterima, seperti dakwaan terhadapnya dikenakan atas iktikad yang tidak baik.

Jika Netanyahu tidak mengajukan kekebalan sampai batas akhir, dakwaan terhadapnya bisa berlanjut ke pengadilan, paling cepat pada Minggu (5/1/2020).

Namun di tengah karut marutnya perpolitikan Israel, tampaknya parlemen tidak akan memberi keputusan soal nasib Netanyahu setidaknya sampai Maret 2020.

Dia membutuhkan dukungan 61 dari 120 anggota parlemen untuk mendapatkan kekebalan, jumlah suara yang sama bagi dia untuk membentuk pemerintahan setelah pemilu pada April dan September 2019. Seperti diketahui, dia gagal mendapat jumlah suara tersebut.

Namun jika mendapat kekebalan, Netanyahu terhindar dari persidangan selama dia menjadi anggota parlemen.

Di sisi lain, permohonan kekebalan ini mengandung risiko politik. Kondisi ini akan menjadi amunisi baru bagi lawan politik yang ingin menggulingkannya.

Netanyahu akan dipandang sebagai pemimpin otokratis yang bisa memainkan aturan hukum dan membahayakan bagi keberlangsungan demokrasi Israel.

Saingan utama Netanyahu dalam pemilu, Benny Gantz, mengatakan, perdana menteri telah membahayakan prinsip-prinsip sipil yang dipegang semua masyarakat, yakni bahwa setiap orang setara di hadapan hukum.

Editor : Anton Suhartono