Dikenakan Tarif 50% oleh Trump, Brasil Siapkan Pembalasan
BRASILIA, iNews.id - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menanggapi surat dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengenakan tarif 50 persen kepada negaranya. Brasil tak akan menerima dan membalasnya.
Lula da Silva merujuk pada Undang-Undang Timbal Balik Ekonomi yang baru disahkan, pemerintah diberi wewenang untuk menerapkan pembalasan yang proporsional.
Dia beralasan klaim AS yang mengalami defisit perdagangan dengan Brasil tidak akurat.
"Statistik dari pemerintah AS sendiri menunjukkan surplus sebesar 410 miliar dolar dalam perdagangan barang dan jasa dengan Brasil selama 15 tahun terakhir," kata Lula da Silva, dalam komentarnya di media sosial.
Dihukum Tarif 50% oleh Trump, Negara Ini Berlakukan Keadaan Darurat Bencana 2 Tahun
Trump telah mengirim surat kepada 22 negara hingga Kamis, memberlakukan tarif masuk baru dengan jumlah bervariasi yang berlaku mulai 1 Agustus. Brasil termasuk negara dengan besaran tarif tertinggi dibandingkan lainnya.
Besarnya tarif kepada Brasil juga dicurigai bermotif politik. Pasalnya, mantan presiden Jair Bolsonaro sekutu dekat Trump, sedang duduk di kursi pesakitan.
Trump Kenakan Tarif Masuk Produk Indonesia 32%, Berlaku 1 Agustus
Trump sebelumnya mengkritik persidangan Bolsonaro. Selain itu Trump juga menyoroti penyensoran terhadap platform media sosial AS.
"Brasil adalah negara berdaulat dengan lembaga-lembaga independen dan tidak akan menerima bentuk pengawasan apa pun," kata Lula da Silva.
Soal kasus Bolsonaro, dia menegaskan proses peradilan terhadap mereka yang bertanggung jawab merencanakan kudeta akan terus berlanjut, tidak tunduk pada intervensi atau ancaman apa pun yang bisa membahayakan independensi lembaga-peradilan nasional.
Trump, dalam posting-an di akun media sosial Truth Social, mengecam persidangan Bolsonaro dengan menyebutnya sebagai aib internasional.
"Persidangan ini seharusnya tidak terjadi. Ini adalah perburuan penyihir yang harus segera diakhiri!" kata Trump seraya memuji Bolsonaro sebagai pemimpin yang sangat dihormati di seluruh dunia selama menjabat.
Editor: Anton Suhartono