Ditolak 5 Negara karena Virus Korona, Kapal Pesiar Angkut 2.200 Orang Berlabuh di Kamboja

Anton Suhartono ยท Kamis, 13 Februari 2020 - 12:16 WIB
Ditolak 5 Negara karena Virus Korona, Kapal Pesiar Angkut 2.200 Orang Berlabuh di Kamboja

Kapal pesiar Westerdam terlihat di dekat dermaga Sihanoukville, Kamboja (Foto: AFP)

SIHANOUKVILLE, iNews.id - Kapal pesiar Westerdam yang dioperasikan oleh Holland America Line akhirnya berlabuh di Kamboja, Kamis (13/2/2020).

Kapal yang berangkat dari Hong Kong pada 1 Februari 2020 itu sempat ditolak di lima negara terkait kekhawatiran adanya penumpang atau kru yang terinfeksi virus korona.

Westerdam membawa 1.455 penumpang dan sekitar 800 kru melakukan pelayaran selama 14 hari di Asia Timur. Jepang merupakan negara pertama yang menolak, seharusnya Westerdam sampai di Yokohoma pada Sabtu.

Kapten lalu mengalihkan perjalanan ke Guam namun lagi-lagi ditolak. Perlakuan serupa terjadi di Filipina, Taiwan, dan Thailand.

Holland America Line bersikeras tidak ada penumpang maupun kru yang terinfeksi virus korona atau Covid-19.

Perusahaan lalu mengumumkan pada Rabu bahwa kapal diperbolehkan berlabuh di Sihanoukville, Kamboja. Pada Kamis pagi, Westerdam terlihat di Sihanoukville, di antara kapal-kapal nelayan kecil.

"Penampakan daratan pertama dari #Westerdam saat matahari terbit di atas Kamboja," cuit seorang penumpang, Christina Kerby, seraya menambahkan para penumpang akan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum turun, dikutip dari AFP.

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengeluarkan izin bagi Westerdam untuk berlabuh.

"Izin untuk berlabuh dikeluarkan untuk menghentikan rasa takut yang sedang terjadi di seluruh dunia. Kita harus membantu mereka saat mereka memintanya," kata dia, kepada situs media yang berafiliasi dengan pemerintah, Fresh News.

Hun Sen merupakan sekutu dekat China dan menegaskan dukungannya terhadap Negeri Tirai Bambu itu dalam penanganan epidemi.

Pekan lalu Hun Sen mengunjungi China sebagai bentuk dukungan. Bahkan Hun Sen berniat menjenguk warganya di Kota Wuhan, pusat epidemi, namun ditolak oleh otoritas China.

Editor : Anton Suhartono