Draf Resolusi DK PBB soal Corona Dibahas, Isinya Semua Konflik di Dunia Harus Dihentikan

Anton Suhartono ยท Kamis, 23 April 2020 - 13:31 WIB
Draf Resolusi DK PBB soal Corona Dibahas, Isinya Semua Konflik di Dunia Harus Dihentikan

DK PBB segera mengesahkan draft resolusi soal pandemi virus corona (Foto: AFP)

NEW YORK, iNews.id - Dewan Keamanan (DK) PBB mulai mempelajari draf resolusi terkait pandemi virus corona yang dibuat oleh Tunisia dan Prancis.

Isi draf itu di antaranya mendesak ditingkatkannya koordinasi dan penghentian permusuhan atau konflik di semua negara dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Draf setebal tiga halaman itu telah dikirim ke 15 anggota DK PBB.

Dalam salinan draf juga ditekankan kebutuhan mendesak untuk menghentikan segera permusuhan di semua negara.

“Semua pihak yang konflik bersenjata harus segera terlibat dalam jeda kemanusiaan setidaknya selama 30 hari berturut-turut,” demikian isi draf, sebagaimana dilaporkan AFP, Kamis (23/4/2020).

Namun draf mengecualikan operasi militer terhadap ISIS, Al Qaeda dan Al Nusra, serta semua kelompok teroris yang masuk dalam daftar DK PBB.

Pembahasan draf berlangsung setelah para anggota menyampaikan masing-masing pandangan.

Seorang sumber diplomat di DK PBB mengatakan, jika terjadi kebuntuan maka akan digelar voting pada awal pekan depan.

Pada bulan lalu Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan gencatan senjata global sehingga seluruh dunia bisa bekerja saa memerangi pandemi yang telah memaksa lebih dari setengah populasi dunia terkurung di rumah.

Krisis kesehatan sekali dalam 1 abad ini telah memicu ketakutan bagi jutaan orang yang tinggal di zona konflik, seperti Yaman dan Afghanistan serta negara-negara berkembang yang tak memiliki sistem perawatan kesehatan memadai.

Jeda konflik selama 30 hari sangat penting karena mereka bisa fokus mengatasi wabah serta memungkinkan masuknya bantuan vital menjangkau semua orang yang membutuhkan.

Berita Lain Bisa Dibaca di Okezone: Pandemi COVID-19 Bisa Picu Konflik Besar dengan Potensi Perang Nuklir

Editor : Anton Suhartono