NEW YORK, iNews.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan kewaspadaan usai beberapa negara menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi bulan ini. Hal itu dia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan Fox News, di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, Rabu (26/9/2019).
Kendati pemberontak Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab, namun Saudi, Amerika Serikat (AS), dan beberapa pemerintah Eropa kompak menuduh Iran sebagai dalang serangan 14 September itu.
Trump: Perubahan Rezim di Iran Adalah Hal Terbaik yang Bisa Terjadi
Iran sendiri membantah terlibat dalam serangan itu.
"Saya tidak berpikir akan menjadi hal yang tepat untuk menyalahkan Iran," kata Erdogan, seperti dilaporkan AFP, Kamis (26/9/2019).
"Kita perlu mengenali fakta bahwa serangan skala ini berasal dari beberapa bagian Yaman."
"Jika kita hanya menempatkan seluruh beban pada Iran, ini tidak akan menjadi cara yang tepat karena bukti yang tersedia tidak selalu menunjukkan fakta itu," ujar dia.
Serangan di pabrik Aramco di Abqaiq dan ladang minyak Khura membuat separuh dari produksi minyak Saudi terpengaruh, namun kini sudah kembali normal.
Erdogan juga mengkritik sanksi AS terhadap Iran, dengan mengatakan tindakan itu tidak menyelesaikan apa pun.
Dia membantah tuduhan bahwa Turki membantu Iran melewati sanksi di masa lalu, dan menegaskan tuduhan itu dilontarkan oleh para lawan pemerintah.
"Ini adalah tuduhan yang disuarakan oleh organisasi teroris yang dikenal sebagai FETO yang berada di balik kudeta yang gagal pada Juli 2016 di Turki," kata Erdogan, kepada Fox News.
"Tuduhan ini lebih dari salah, ini semua adalah propaganda yang dihasilkan oleh organisasi teroris FETO."
Turki menyebut gerakan pendeta Muslim yang berbasis di AS, Fethullah Gulen, sebagai "FETO". Namun organisasi itu menyangkal terlibat dalam upaya kudeta.
Editor: Nathania Riris Michico