Filipina Murka, China Gambarkan Rakyatnya sebagai Monyet dalam Video AI
Penjaga Pantai China berulang kali menggunakan meriam air bertekanan tinggi terhadap kapal-kapal Filipina yang beroperasi di wilayah sengketa. Sejumlah insiden bahkan menyebabkan kerusakan kapal dan korban luka. Kedua negara juga saling menuduh melakukan provokasi di laut, termasuk dalam bentrokan yang melibatkan pedang, tombak, dan pisau.
Pada Juni lalu, Beijing memasang penghalang terapung di pintu masuk Karang Scarborough. Penghalang tersebut kemudian dicabut setelah Filipina melayangkan protes diplomatik. Masih pada bulan yang sama, pemerintah China juga melarang Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. beserta keluarga intinya memasuki wilayah daratan China, Hong Kong, dan Makau.
Dalam keterangan unggahan video tersebut, China Daily kembali menegaskan posisi Beijing terkait sengketa Laut China Selatan.
"Sepuluh tahun setelah putusan arbitrase, apa yang disebut putusan Laut China Selatan itu bukan menjadi jalan menuju perdamaian, melainkan sumber konfrontasi yang dibungkus sebagai hukum," tulis China Daily.
Media itu juga menuduh Filipina menjadikan negaranya sebagai pion dalam permainan geopolitik dengan mengandalkan dukungan negara-negara lain, terutama Amerika Serikat dan Jepang.
Video monyet tersebut merupakan salah satu dari serangkaian konten satire yang belakangan diunggah China Daily mengenai sengketa Laut China Selatan. Dalam unggahan lain, Filipina juga digambarkan sebagai badut dan ular.
Hingga kini, otoritas China belum memberikan tanggapan resmi atas kecaman pemerintah Filipina.
Editor: Maria Christina